Pasar Lubuk Buaya Padang Dulu Dikenal sebagai Pasar Balai Usang

 

Pasar Lubuk Buaya. Foto: FB @ Ditjen PDSPKP 

     Pasar Lubuk Buaya dulunya dikenal sebagai Pasar Balai Usang yang memiliki sejarah panjang yang menarik yang terletak di Kecamatan Koto Tangah. Diperkirakan pasar ini sudah ada sejak tahun 1920-an, menjadikannya salah satu pasar tertua di Kota Padang. Dan awalnya, Pasar Lubuk Buaya terletak di samping Sungai Kandis, tepatnya di belakang Masjid Jami' Al-Amin, Peru-mahan Lubuk Gading I. Pasar ini menjadi tempat berte-munya para pedagang dan pembeli dari berbagai daerah di sekitar Lubuk Buaya dan sekitarnya.

     Seiring dengan perkembangan Kota Padang, Pasar Lu-buk Buaya pun mengalami pembenahan. Pada tahun 1981-1982, dilakukan pembangunan tahap pertama pasar ini, dengan mendirikan 92 toko atau kios dan 56 petak meja batu. Kemudian, pada tahun 1993-1994, menyusul pemba-ngunan tahap kedua, yang menambahkan 56 petak toko atau kios dan 40 petak meja batu. Dan Pasar Lubuk Buaya terus berkembang hingga saat ini, menjadi salah satu pasar tradisional yang ramai dikunjungi masyarakat Padang.

      Pasar Lubuk Buaya tidak hanya berfungsi sebagai tem-pat jual beli, tetapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Pasar ini menjadi pusat perputaran ekonomi lokal, di mana para pedagang dan pembeli dapat saling berinteraksi dan menjalin hubungan dagang. Selain itu, Pasar Lubuk Buaya juga menjadi tempat pelestarian budaya dan tradisi masyarakat Padang. Di sini, kita dapat menemukan berbagai macam produk lokal, seperti kuliner khas Padang, pakaian adat, dan kerajinan tangan.

     Pada tahun 2023, Pasar Lubuk Buaya direnovasi besar-besaran untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan para pedagang dan pembeli. Bangunan pasar yang lama dibongkar dan digantikan dengan bangunan baru yang lebih modern dan megah. Pembangunan baru Pasar Lubuk Buaya ditargetkan selesai pada akhir tahun 2024. Diharapkan dengan pembangunan ini, Pasar Lubuk Buaya akan semakin ramai dikunjungi dan menjadi salah satu ikon wisata Kota Padang.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url