Syekh Haji Zainuddin Hamidy
Seorang lagi ulama dari Luhak Limo Puluah yaitu Syekh Haji Zainuddin Hamidy berasal dari Balai Nan Duo, Nagari Koto Nan Ompek, Payakumbuh. Lahir 8 Februari 1907 dan meninggal dunia 29 Maret 1957. Dan sejak kecil, Buya Zainuddin Hamidy telah menunjukkan kecerdasan dan minat yang besar terhadap ilmu agama. Beliau belajar menghafal Al-Qur'an di surau, kemudian melanjutkan pendidikannya di Darul Funun Padang Japang, dan akhirnya menimba ilmu di Mekah.
Di tanah suci, beliau belajar di Ma'had Islamy, sebuah perguruan yang kelak menginspirasi pendirian pesantrennya sendiri. Beliau dikenal sebagai seorang hafiz (penghafal Al-Qur'an) dan muhaddits (ahli hadis). Karya-karyanya, seperti Terjemahan Shahih Bukhari, Terjemahan Hadits Arba’in, dan Musthalahul Hadits dan "Tafsir Qur'an" (bersama Fakhruddin HS), menjadi bukti penguasaannya terhadap ilmu-ilmu agama. Bahkan, beliau dikabarkan hafal lebih dari 10.000 hadis beserta sanadnya.
Buya Zainuddin Hamidy tidak hanya fokus pada pendidikan agama. Beliau juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan, beliau memimpin Komite Nasional Indonesia Luhak Lima Puluh Kota dan membentuk Laskar Sabilillah untuk melawan agresi Belanda. Ma'had Islamy bahkan dijadikan tempat latihan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan laskar-laskar perjuangan.
Buya Zainuddin Hamidy wafat pada 29 Maret 1957, pemerintah memberikan penghargaan kepada Buya Zainuddin Hamidy sebagai "Pejuang Agama" dengan mengabadikan namanya sebagai nama jalan di Payakumbuh.
Feni Efendi, penulis buku Ensiklopedia Tokoh-Tokoh dari Luhak Limo Puluah.
Di tanah suci, beliau belajar di Ma'had Islamy, sebuah perguruan yang kelak menginspirasi pendirian pesantrennya sendiri. Beliau dikenal sebagai seorang hafiz (penghafal Al-Qur'an) dan muhaddits (ahli hadis). Karya-karyanya, seperti Terjemahan Shahih Bukhari, Terjemahan Hadits Arba’in, dan Musthalahul Hadits dan "Tafsir Qur'an" (bersama Fakhruddin HS), menjadi bukti penguasaannya terhadap ilmu-ilmu agama. Bahkan, beliau dikabarkan hafal lebih dari 10.000 hadis beserta sanadnya.
Buya Zainuddin Hamidy tidak hanya fokus pada pendidikan agama. Beliau juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan, beliau memimpin Komite Nasional Indonesia Luhak Lima Puluh Kota dan membentuk Laskar Sabilillah untuk melawan agresi Belanda. Ma'had Islamy bahkan dijadikan tempat latihan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan laskar-laskar perjuangan.
Buya Zainuddin Hamidy wafat pada 29 Maret 1957, pemerintah memberikan penghargaan kepada Buya Zainuddin Hamidy sebagai "Pejuang Agama" dengan mengabadikan namanya sebagai nama jalan di Payakumbuh.
Feni Efendi, penulis buku Ensiklopedia Tokoh-Tokoh dari Luhak Limo Puluah.
