GUA Lidah Air, atau Ngalau Lida Aia: Potensi Ekonomi, Perlindungan, dan Penelitian

 

GUA Lidah Air, atau Ngalau Lida Aia dalam bahasa Minang, adalah sebuah gua bersejarah yang terletak di Kojai, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Gua ini terkenal dengan stalaktit dan stalakmitnya yang indah, serta aliran air yang jernih dan menyegarkan.

     Gua ini telah dihuni manusia prasejarah sejak zaman Neolithik. Bukti-bukti seperti lukisan gua, alat-alat batu, dan gigi manusia purba telah ditemukan di dalam gua. Nama "Lidah Air" berasal dari aliran air yang keluar dari mulut gua, yang menyerupai lidah. Di gua ini ditemukan fosil berusia 73 ribu tahun di Gua Lida Ajer atau Ngalau Lida Ayia. Hal itu pernah diteliti Eugene Francois Thomas Dubois, penemu fosil Manusia Jawa (Pithecanthropus erectus). Dubois meneliti Gua Lida Ajer di senggang waktunya bekerja di Rumah Sakit Payakumbuh.

     Hasil penelitian Dobois tersebut dimuat di jurnal ilmiah dunia, belum terbantahkan hingga sekarang. Menurut Herwandi, hasil penelitian di Gua Lida Ajer menunjukkan, manusia modern anatomi telah menghuni Indonesia sekitar 73 ribu tahun lalu atau jauh lebih awal dari penghitungan semula sekitar 45 ribu tahun lalu. Dan penelitian ini telah dilakukan oleh 23 ilmuwan dari Australia, Indonesia, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan Belanda dipimpin K.E. Westaway dkk), telah membuka berbagai perspektif baru. Adapun para peneliti telah menemukan ratusan gambar cadas atau lukisan purba di Gua Lida Ajer. Lukisan itu bermotif menyerupai manusia, termasuk menyerupai gerakan dasar Silek Minangkabau. Dan Gua Lida Ajer semestinya segera ditetapkan sebagai Cagar Sejarah sesuai UU Nomor 11 Tahun 2010 dan PP Nomor 1 Tahun 2022.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url