JALUR KERETA API PAYAKUMBUH

 

 

Sebuah moda transportasi yang menjadi tonggak zaman modern di abad ini. Dan sejarah kereta api ini telah menjadi kisah inovasi dan kemajuan teknologi yang telah merevolusi transportasi darat dunia. Perjalanannya dimulai dari kereta sederhana hingga menjadi moda transportasi modern yang kita kenal sekarang. Dan awal mula kereta api berawal dari penggunaan kereta kuda yang berjalan di jalur kayu. Penemuan mesin uap oleh James Watt menjadi titik balik. Lalu Richard Trevithick menciptakan lokomotif uap pertama pada tahun 1804 yang menandai lahirnya kereta api modern.

    Pada Abad ke-19 dan awal abad ke-20 telah menjadi era keemasan kereta api. Jaringan rel berkembang pesat yang menghubungkan kota-kota dan membawa perubahan besar dalam perdagangan dan pariwisata. Dan seiring waktu, lokomotif uap digantikan oleh lokomotif listrik dan diesel. Kereta api berkecepatan tinggi seperti Shinkansen di Jepang telah lahir sebagai penandakan kemajuan teknologi transportasi.

     Adapun sejarah kereta api di masa kolonial yaitu pemerintah Hindia Belanda telah membangun jalur kereta api pertama di Indonesia pada tahun 1864 yang menghubungkan Semarang dan Surakarta. Tujuan utamanya adalah mengangkut hasil bumi perkebunan dan tambang. Setelah pasca kemerdekaan, Indonesia mengambil alih pengelolaan kereta api dan mendirikan PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada tahun 1945. Fokus pembangunan diarahkan pada pelayanan penumpang dan integrasi antarmoda transportasi. Dan sekarang KAI terus berbenah dengan modernisasi armada, pengembangan infrastruktur, dan peningkatan pelayanan. Kereta api menjadi pilihan transportasi penting bagi masyarakat Indonesia, terutama untuk perjalanan antar kota.

     Adapun di belahan dunia lain, kereta api tercepat di dunia saat ini adalah kereta Maglev di Shanghai, China, yang mampu mencapai kecepatan hingga 431 km/jam. Ada juga London Underground adalah sistem kereta bawah tanah tertua di dunia, beroperasi sejak tahun 1863. Dan "Orient Express" menjadi kereta api legendaris yang melayani perjalanan mewah lintas benua Eropa. Adapun perjalan sejarah kereta api memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan perkembangan Sumatera Barat. Kehadirannya dimulai pada masa penjajahan Belanda, didorong oleh potensi sumber daya alam, khususnya batu bara di Ombilin pada tahun 1868 oleh W.H. van Greve menjadi pemicu pembangunan jalur kereta api.

     Saat ini jalur kereta api di Kota Payakumbuh tidak diaktifkan sejak tahun 1978 dan reaktivasi jalur kereta api diharapkan dapat meningkatkan pariwisata dan perekonomian Sumatera Barat. Selain itu, modernisasi dan pengembangan infrastruktur menjadi kunci revitalisasi transportasi kereta api. Di mana jalur kereta api Payakumbuh - Suliki merupakan bagian dari sejarah perkeretaapian di Sumatera Barat yang telah lama terlupakan. Jalur ini dibangun pada masa kolonial Belanda dan memiliki peran penting dalam mengangkut hasil bumi dan penumpang di daerah tersebut dan tidak lagi diaktifkan pada tahun 1933.

     Pembangunan jalur kereta api Payakumbuh - Suliki dimulai pada tahun 1894 oleh Staatsspoorwegen ter Sumatra's Westkust (SSSW). Jalur ini dibangun untuk menghubungkan Payakumbuh, yang merupakan pusat perdagangan di dataran tinggi Minangkabau, dengan tambang emas di Koto Tinggi. Jalur kereta api Payakumbuh - Suliki sepanjang 20 kilometer ini resmi ditutup pada tahun 1933. Jalur ini dioperasikan dengan menggunakan lokomotif uap. Dan jalur kereta api Payakumbuh - Suliki memiliki peran penting dalam mengangkut hasil bumi dari daerah Suliki dan sekitarnya, seperti emas, kopi, dan karet. Jalur ini juga digunakan untuk mengangkut penumpang yang ingin bepergian antara Payakumbuh dan Suliki.

     Penutupan jalur kereta api Payakumbuh - Suliki ditutup pada tahun 1933 akibat beberapa faktor, di antaranya: menurunnya produksi emas di Suliki. Dan sisa-sisa jalur kereta api dibongkar dan selesai pada tahun 1935. Adapun saat ini, hanya sedikit sisa-sisa jalur kereta api Payakumbuh - Suliki yang masih dapat ditemukan. Beberapa peninggalan yang masih ada di antaranya: bekas stasiun kereta api di Payakumbuh dan Suliki, jembatan kereta api, fondasi rel kereta api.

     Adapun perencanaan peng-aktif-an rel kereta api di di Payakumbuh merupakan sebuah gembira bagi masyarakat Payakumbuh dan sekitarnya. Jalur kereta api yang telah lama mati suri akan kembali diaktifkan. Reaktivasi ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi berbagai pihak, termasuk meningkatkan konektivitas yaitu mempermudah mobilitas orang dan barang antara Payakumbuh dan daerah lain di Sumatera Barat, seperti Padang, Pariaman, dan Riau. Selanjutnya mengurangi kemacetan yaitu menjadi alternatif moda transportasi darat yang lebih efisien dan bebas macet. Manfaat lainnya yaitu meningkatkan ekonomi yaitu mendukung pertumbuhan ekonomi di Payakumbuh dan sekitarnya dengan membuka peluang usaha baru di bidang pariwisata, perdagangan, dan jasa. Dan juga meringankan beban jalan raya serta mengurangi beban jalan raya dan memperpanjang usia jalan. Selain itu juga untuk menciptakan lapangan kerja baru selama proses pembangunan dan operasional kereta api.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url