Janjang 40 , Dibangun Tahun 1908 oleh Louis Constant Westenenk
Janjang 40. Foto: bukittinggiku.com
Janjang 40 dibangun pada tahun 1908 oleh Louis Constant Westenenk, Asisten Residen Agam saat itu. Janjang ini dibangun sebagai bagian dari penataan pasar di Bukittinggi, menghubungkan setiap pasar dengan jenjang (anak tangga). Dan tujuannya untuk mempermudah akses antar pasar di kawasan Bukittinggi. Meningkatkan perekonomian lokal dengan memperlancar perniagaan dan menjadi ikon wisata dan landmark Kota Bukittinggi.
Meskipun dikenal sebagai Janjang 40, jumlah anak tangga sebenarnya lebih dari 40. Ada beberapa versi tentang asal-usul nama "Janjang 40". Versi yang paling populer adalah karena 40 merupakan angka yang dianggap keramat dalam budaya Minangkabau. Janjang 40 pernah mengalami renovasi besar pada tahun 2017 dan Janjang 40 menjadi inspirasi bagi lagu Minang "Andam Oi" karya Syahrul Tarun Yusuf.
Janjang 40 merupakan saksi bisu perkembangan Kota Bukittinggi sejak zaman kolonial Belanda. Selain itu juga memiliki nilai arsitektur dan budaya yang tinggi dan menjadi bagian penting dari identitas Kota Bukittinggi. Adapun saat ini, Janjang 40 masih difungsikan sebagai akses antar pasar dan objek wisata dan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Bukittinggi. Janjang 40 ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Kota Bukittinggi.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau