LABUAH BASILANG Tempo Dulu

 

Labuah Basilang. Foto: Feni Efendi

     Ada sebuah tonggak bulat setinggi orang dewasa di Labuh Basilang itu dulunya sebagai penanda batas kota semasa pemerintahan Hindia Belanda. Dan satu lagi ada di seberang jalannya yaitu di samping Sate Man. Dan memori warga kota tentang Labuah Basilang ini cukup beragam. Di sini dulu, di dekat lampu merah yang ke arah Tiakar ada kedai nasi. Orang menyebutnya Kedai Nasi Buyuang Pirik. Dan nasi yang dibungkus pulang itu dinamakan nasi ramas. Sekarang sudah menjadi tempat jualan ayam gecak dan konter ponsel.

     Di sebelahnya ada toko grosir harian yang sangat besar di zaman dulu. Namanya Toko H. Zamzami. Tidak ada orang zaman itu yang tidak tahu dengan toko grosir besar ini. Dan satu lagi yang masih diingat warga yaitu Sate Man. Iklannya sering keluar di radio di zaman dulu. "Katupek limo, dagiang ciek, berapa saya kanai," begitulah iklannya sangat fenomenal di radio-radio lokal semasa itu.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url