MIESO LEGENDARIS ZAMAN DULU
|
Lokasi Bakso Trisno zaman dulu sebelah kiri. Foto: Feni Efendi |
Zaman dulu kalau anak muda malam minggu maka akan ramai pergi makan bakso di Borobudur, Bakso Ateng, ada juga yang menonton di Bioskop Kariya, Bioskop Kencana, Bioskop Rex. Kalau sekarang sudah puluhan bahkan ratusan tempat makan dan minum anak muda di sepan-jang Jalan Soekarno Hatta, banyak sekali tempat nongkrong anak muda, kenang Rifatni. Sedangkan Rahmad Afdillah masih mengingat saat tinggal dekat pohon beringin itu sejak belum sekolah sampai tamat SMA. Pohon itu tumbang sekitar tahun 1999. Orang tuanya menjual barang harian dan rokok di samping Bakso Trisno itu. Adapun Jun Monodagusta masih mengingat Bakso Mak Sidi di Payobasung sekitar tahun akhir 1980-an. Sedangkan Feri Jangkuang juga mengingat ada Bakso Si In Pontong di Tiakar.
Untung Syafaruddin yang menjadi generasi 1970/1980-an juga meng-ingat Miso Jamin di jalan tengah di depan pasar bertingkat yang baru selesai dibangun. Terakhir pindah di seberang kantor PLN (samping) polsekta di deretan RM Asia Baru. Sedangkan Novitra Besni mengingat ketika mau makan Bakso Trisno sehabis acara pramuka. Saat itu hari gerimis pada senja hari dengan seorang teman laki-laki tetapi sewaktu mau masuk warung mereka hitung dulu uangnya ternyata tidak cukup untuk berdua. Lalu mereka gabungkan uangnya ternyata tak cukup juga untuk semangkok. Akhirnya mereka menghirup wanginya saja dari de-pan warung sejenak, kenangnya. Dan memang bakso itu jajanan elit pada masa dulu, kata Wiwis Zainibar menambahkan sembari mengatakan Mieso Nida yang dekat Wisma Sari untuk dicatat.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau