SURAU TUO TARAM: Pusat Perdaban Islam Tertua di Luhak Limo Puluah


 

 

Surau Tuo Taram merupakan sebagai pusat peradaban Islam tertua di Luak Limo Puluah. Dibangun pada awal abad ke-17 oleh Syekh Ibrahim Mufti, seorang ulama penyebar Islam di Nagari Taram. Dan saat ini, Surau Tuo masih berdiri dengan material gedung yang baru dari beton. Surau ini berlokasi di Jorong Balaicubadak, Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. Menariknya, Surau Tuo Taram juga menyimpan Alquran tulisan tangan.

     Adapun beberapa fakta menarik tentang Surau Tuo Taram di antaranya dibangun pada awal abad ke-17 oleh Syekh Ibrahim Mufti dan pernah menjadi pusat pembelajaran Al-Quran. Dulu digunakan untuk ibadah suluk (tarekat) dan sekarang fungsinya sebagai tempat ibadah terbatas karena kehadiran Masjid Baitul Qiramah di sebelahnya. Surau ini dirawat dan dikelola secara bergantian oleh masyarakat Taram

     Surau Tuo Taram ini penting karena menjadi bukti sejarah penyebaran Islam di Minangkabau serta menjadi simbol budaya Islam bagi masyarakat Taram. Berdasarkan riwayat Surau Taram, ada beberapa kemungkinan tradisi yang mungkin pernah dipraktikkan di antaranya mengaji dan suluk sebagai pusat pendidikan Islam di abad ke-19, Surau Taram kemungkinan besar memiliki tradisi mengaji dan suluk (ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah) bagi para murid. Selain itu juga ada tradisi menyalin naskah. Di mana dulu, Surau Taram dikenal dengan tradisi menulis dan menyalin naskah. Hal ini dibuktikan dengan adanya koleksi naskah yang pernah tersimpan di surau ini, meskipun sebagian besar sudah hilang. Selain itu juga ada ziarah ke Makam Syekh Ibrahim Mufti dan Syekh Muhammad Nurdin yang terletak di kompleks surau dan menjadi tujuan ziarah.

     Adapun tentang Syekh Ibrahim Mufti Taram adalah seorang    ulama kharismatik. Beliau dikenal dengan sebutan Beliau Keramat Taram atau Tuanku Tuo Taram. Namanya terkenal tidak hanya di Nagari Taram, tapi juga di kalangan pengikut tarekat di Sumatera Barat, Riau, dan bahkan Malaysia. Dan Syekh Ibrahim Mufti melanjutkan penyebaran Islam di daerah Minangkabau yang sebelumnya dirintis oleh Syekh Burhanudin Ulakan pada abad ke-17. Adapun asal beliau masih diperdebatkan. Ada yang meyakini berasal dari Palestina dan ada yang menyebut dari Timur Tengah. Ia diketahui sebagai murid Syekh Ahmad Qusasi di Madinah dan sezaman dengan Syekh Abdurrauf as-Singkili. Adapun kegiatan dakwah, beliau mendirikan Surau Tuo Taram sebagai pusat kegiatan dakwahnya. Surau ini diyakini sebagai surau pertama yang ada di LuhakLima Puluh. Adapun peninggalan beliau selain surau, yaitu beliau diyakini meninggalkan beberapa benda pusaka, termasuk tongkat yang konon bisa mengeluarkan mata air.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url