Tari Batobo dari Nagari Piobang
Foto: YouTube Disdik.bud50kota
Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatra Barat yang memiliki kekayaan budaya yang beragam. Kebudayaan tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari adat istiadat, kesenian, hingga kuliner. Dan masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota masih memegang teguh adat isti-adat yang diturunkan dari nenek moyang. Beberapa adat istiadat yang masih dilestarikan di antaranya Alek Nagari yaitu upacara adat yang diselenggarakan oleh masyarakat nagari untuk merayakan hari besar keagamaan atau hari-hari penting lainnya seperti batagak pangulu.
Alek Nagari biasanya ditandai dengan berbagai kegiatan, seperti pertunjukan seni, pawai, dan makan-makan bersama. Kedua, acara perkawinan prosesi pernikahan yang biasanya dimulai dengan lamaran, dilanjutkan dengan peminangan, pertunangan, dan puncaknya adalah akad nikah dan resepsi pernikahan. Selain adat istiadat, Kabupaten Lima Puluh Kota juga memiliki kekayaan kesenian yang beragam. Beberapa kesenian yang masih dilestarikan di antaranya adalah Tari Batobo yang merupakan tarian tradisional yang berasal dari Nagari Piobang. Tarian ini ditarikan oleh para penari wanita dengan menggunakan pakaian adat Minangkabau. Tari Batobo biasanya ditampilkan pada acara-acara adat, seperti alek nagari dan pernikahan.
Tari Batobo Piobang sudah ada sejak zaman dahulu dan diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Tarian ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas hasil panen padi yang berlimpah. Selain itu, Tari Batobo Piobang juga mengandung nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat Minangkabau seperti semangat kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur. Dan gerakan Tari Batobo Piobang dinamis dan energik, mencerminkan semangat dan kegembiraan masyarakat saat panen padi. Para penari menari dengan penuh semangat, mengikuti iringan musik tradisional Minangkabau yang khas. Musik pengiring Tari Batobo Piobang biasanya menggunakan alat musik talempong, saluang, dan gandang.
Para penari Tari Batobo Piobang mengenakan pakaian adat Minangkabau yang berwarna cerah dan meriah. Penari perempuan memakai baju kurung dan kain songket, sedangkan penari laki-laki memakai baju pangsi dan kain sarong. Dan Tari Batobo Piobang merupakan salah satu kekayaan budaya Minangkabau yang perlu dilestarikan. Tarian ini tidak hanya indah dan menghibur, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya dan tradisi yang penting untuk diwariskan kepada generasi penerus.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melestarikan Tari Batobo Piobang yaitu dengan cara mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengenal dan mempelajari Tari Batobo Piobang. Ini bisa dilakukan dengan mengadakan pelatihan di sekolah-sekolah atau sanggar tari. Cara selanjutnya dengan cara dokumentasi yaitu merekam dan menyimpan gerakan Tari Batobo Piobang beserta musik pengiringnya dalam bentuk tulisan, video, atau audio. Dokumentasi ini penting untuk referensi di masa depan.
Ha lainnya juga bisa dengan cara sering-sering menampilkan Tari Batobo Piobang dalam acara-acara adat, pentas seni, atau festival budaya. Ini akan membuat masyarakat familiar dengan tari ini dan menarik minat generasi muda untuk ikut melestarikannya. Selanjutnya juga bisa dengan mengdakan kompetisi Tari Batobo Piobang untuk memacu semangat para pelaku seni dan regenerasi penari. Upaya lainnya juga bisa dengan bekerjasama dengan pemerintah dan lembaga terkait. Dan dukungan dari pemerintah daerah atau lembaga kebudayaan untuk mengadakan pelatihan, pementasan, dan dokumentasi Tari Batobo Piobang. Dengan upaya-upaya tersebut, Tari Batobo Piobang bisa terus lestari dan dikenal oleh generasi mendatang.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau
