Demam Musik Punk dan SKA di Payakumbuh

1584464211600-GettyImages-79823322
Foto: vice.com

    Era reformasi menjadi titik balik masuknya arus musik indie ke Payakumbuh. Gelombang musik punk, yang dipelopori oleh band-band legendaris seperti Green Day, Offspring, dan Rancid, menghantam keras jiwa muda kota ini. Lirik-lirik yang kritis terhadap kemapanan, distorsi gitar yang kasar, dan energi panggung yang meledak-ledak menjadi bahasa baru bagi anak muda Payakumbuh. Mereka menemukan wadah untuk menyuarakan keresahan dan ketidakpuasan terhadap realitas sosial yang ada.

       Album kompilasi seperti "Punk Klinik" menjadi kitab suci bagi para penggemar punk di Payakumbuh. Kaset-kaset tersebut diputar berulang kali di kamar-kamar sempit, menjadi soundtrack bagi kehidupan remaja yang penuh gejolak. Gaya berpakaian ala punk, dengan celana robek, jaket kulit, dan rambut mohawk, menjadi simbol perlawanan terhadap arus utama.

     Tidak hanya punk, musik ska yang lebih ceria dan energik juga ikut meramaikan skena musik Payakumbuh. Dengan irama yang lebih ringan dan sentuhan instrumen tiup seperti terompet, ska menawarkan alternatif bagi mereka yang menginginkan musik yang lebih mudah dicerna namun tetap memiliki semangat pemberontakan. Album kompilasi "SKA Klinik" dan popularitas band seperti Tipe-X menjadi bukti betapa digemarinya musik ska di kota ini.

      Namun, di tengah hiruk pikuk punk dan ska, genre musik grunge juga sempat merajai skena musik Payakumbuh pada awal 2000-an. Suara gitar yang berat dan lirik-lirik yang melankolis dari band-band grunge seperti Nirvana dan Pearl Jam menemukan resonansi di hati anak muda Payakumbuh yang mungkin sedang mencari pelarian dari tekanan hidup.

     Setelah masa kejayaan grunge, punk dan musik underground, khususnya trash metal, kembali mendominasi skena musik Payakumbuh. Musik-musik yang lebih keras dan agresif ini menjadi kanal bagi ekspresi kemarahan dan frustrasi, mencerminkan perubahan dinamika sosial dan politik yang terjadi.

       Demam musik punk dan ska di Payakumbuh bukan sekadar tren sesaat. Lebih dari itu, fenomena ini merupakan cerminan dari gejolak jiwa muda yang mencari identitas dan ekspresi. Musik menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan mereka dalam semangat pemberontakan dan kebebasan. Meskipun arus musik terus berubah, semangat punk dan ska tetap hidup dalam ingatan dan mungkin masih berdenyut di sudut-sudut kota Randang ini, siap untuk dinyalakan kembali oleh generasi berikutnya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url