EKS. GEDUNG AISYIYAH DI AIR TABIT

 

Eks. Gedung Aisyiyah di Balai Jariang. Foto: Feni Efendi

Di belakang Balai Adat Balai Jariang Nagari Air Tabit berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan jejak sejarah panjang. Gedung yang dulunya dikenal sebagai Gedung Eks. Aisyiyah ini, bukan sekadar bangunan biasa, melainkan saksi bisu perjalanan zaman, dari era kolonial Hindia Belanda hingga masa kemerdekaan, dan kini, menjadi tempat tinggal yang menyimpan kenangan.

     Dibangun pada masa Hindia Belanda, arsitektur gedung ini mencerminkan gaya bangunan kolonial yang khas. Dinding-dinding tebal, jendela-jendela besar, dan atap yang tinggi, seolah bercerita tentang masa lalu ketika bangunan ini menjadi pusat kegiatan organisasi Aisyiyah, sayap perempuan dari Muhammadiyah. Namun, lebih dari sekadar arsitektur, gedung ini menyimpan kisah yang lebih dalam, terutama ketika Indonesia memasuki era kemerdekaan.

     Pada masa perjuangan kemerdekaan, Nagari Air Tabit menjadi salah satu pusat pergerakan Muhammadiyah. Di sinilah, Buya Hamka, seorang ulama, sastrawan, dan tokoh nasional yang disegani, pernah singgah dan bertemu dengan berbagai tokoh Muham-madiyah. Gedung Eks. Aisyiyah ini menjadi saksi bisu pertemuan-pertemuan penting yang membahas strategi perjuangan, pendidikan, dan dakwah. Kehadiran Buya Hamka di tempat ini, memberikan nilai sejarah yang tak ternilai bagi gedung dan masyarakat Nagari Air Tabit.

     Kisah Buya Hamka di gedung ini bukan hanya sekadar catatan sejarah, tetapi juga inspirasi bagi generasi penerus. Semangat perjuangan, kecerdasan, dan keteguhan iman yang ditunjukkan Buya Hamka, menjadi teladan yang patut diikuti. Gedung ini menjadi simbol betapa pentingnya peran organisasi keagamaan dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa.

     Seiring berjalannya waktu, fungsi gedung ini mengalami perubahan. Kini, bangunan bersejarah ini difungsikan sebagai tempat tinggal. Meskipun fungsinya telah berubah, aura sejarah dan kenangan masa lalu tetap terasa di setiap sudut bangunan. Dinding-dinding yang dulunya menjadi tempat pertemuan para tokoh Muhammadiyah, kini menjadi saksi bisu kehidupan sehari-hari penghuninya.

     Perubahan fungsi gedung ini tentu saja menimbulkan berbagai pertanyaan tentang pelestarian bangunan bersejarah. Di satu sisi, perubahan fungsi dapat menjadi cara untuk menjaga keberadaan bangunan tersebut. Di sisi lain, perlu adanya upaya untuk menjaga nilai sejarah dan arsitektur bangunan agar tetap lestari.

      Gedung Eks. Aisyiyah di Nagari Air Tabit adalah bagian dari warisan budaya yang tak ternilai. Gedung ini bukan hanya sekadar bangunan tua, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah bangsa. Kisah-kisah yang tersimpan di dalamnya, perlu dijaga dan dilestarikan agar generasi mendatang dapat mengenal dan menghargai sejarah bangsanya. Adapun upaya pelestarian dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti pendokumentasian sejarah, perawatan bangunan, dan edukasi kepada masyarakat. Dengan demikian, gedung ini dapat terus berdiri kokoh, menjadi pengingat akan masa lalu, dan inspirasi bagi masa depan.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url