GEREJA KATOLIK SANTO FIDELIS A SIGMARINDA
Gereja Khatolik. Foto: Feni Efendi
Di jantung Kota Payakumbuh, berdampingan dengan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina dan berhadapan dengan SMP Fidelis, berdiri sebuah bangunan yang sarat akan sejarah dan nilai toleransi: Gereja San Fransiskus. Dibangun pada 25 Januari 1933 oleh Pastor P.J. Van Hoof, gereja ini bukan sekadar tempat ibadah bagi umat Katolik, melainkan juga saksi bisu perjalanan panjang Kota Payakumbuh dalam merajut keberagaman. Dengan nomor inventaris 15/BCB-TB/A/03/2007, Ba-dan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) telah menetapkan Gereja San Fransiskus sebagai cagar budaya tidak bergerak, menegaskan pentingnya bangunan ini dalam narasi sejarah kota.
Bangunan berukuran 12 meter x 25 meter yang berdiri di atas la-han seluas 65 meter x 100 meter ini, mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, di balik kesederhanaannya, tersembunyi ni-lai-nilai arsitektur yang mencerminkan gaya kolonial pada masanya. Inskripsi "ME POSUIT PAROCHUS PJ. Van Hoof 25 Jan 1933" yang terukir di dinding selatan pintu masuk, menjadi bukti otentik keberadaan dan sejarah pembangunan gereja ini. Inskripsi ini bukan hanya sekadar catatan waktu, melainkan juga pengingat akan dedikasi dan visi seorang pastor yang telah meletakkan dasar bagi komunitas Katolik di Payakumbuh.
Keberadaan Gereja San Fransiskus di tengah lingkungan yang didominasi oleh institusi Islam, menunjukkan bahwa toleransi dan kerukunan antarumat beragama telah lama berakar di Payakumbuh. Kedekatan fisik antara rumah sakit Islam dan gereja Katolik, mencip-takan simbol harmoni yang kuat, menggambarkan bagaimana perbe-daan keyakinan dapat hidup berdampingan secara damai.
Penetapan Gereja San Fransiskus sebagai cagar budaya bukan hanya sekadar pengakuan atas nilai sejarah dan arsitekturnya, tetapi juga merupakan upaya untuk melestarikan memori kolektif masya-rakat Payakumbuh. Bangunan ini menjadi pengingat akan masa lalu yang kaya, serta menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang untuk terus menjaga dan merawat nilai-nilai toleransi dan keru-kunan. Dan lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Gereja San Fransiskus adalah simbol keberagaman dan toleransi yang hidup. Ia adalah bukti bahwa di tengah perbedaan, manusia dapat mem-bangun harmoni dan saling menghormati. Keberadaannya di tengah kota Payakumbuh, di antara rumah sakit Islam dan sekolah, adalah sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana perbedaan dapat men-jadi kekuatan yang mempersatukan, bukan memisahkan.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau