Kedai Tuak yang juga Mulai Menghilang

 

Minum Tuak. Foto: pekanbarupos.co

     Sebagaimana tuak yang tak dapat dikikis sepenuhnya sejak Minangkabau ini ada, maka sampai hari ini pun sudah mulai banyak berkurang meski tidak hilang sepenuhnya. Pada awal tahun 2000-an, kedai-kedai tuak masih berjamuran di kota yang semakin religius ini.

     Di kedai-kedai itu, orang-orang yang sudah teler akan tertidur di bangku-bangku kedai. Ada yang bernyanyi bermain gitar. Ada juga yang duduk berkelompok sambil menikmati kerupuk lado dengan ob-rolan-obrolan ringan yang santai. Terkadang mereka terlihat seakan-seakan seperti sedang menikmati sunset di Pantai Kuta.

     Di kedai itu, sesekali datang anak-anak usia SMP atau SMA membeli beberapa liter tuak yang disimpan di dalam bekas botol kecap. Terkadang mereka meminumnya beramai-ramai di acara baralek. Menonton orgen tunggal dan bergoyang di sana. Dan tidak jarang acara di malam itu berakhir dengan tawuran. Namun sekarang kedai-kedai sudah ban-yak yang tutup dan anak-anak muda pun semakin terlepas dari godaan yang merusak masa depannya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url