RUMAH SUSUN DI PAYAKUMBUH
Desain Rumah Susun di Kota Payakumbuh
Gambar dibuat menggunakan Bing Creator Image
Sebagai kota terpadat kedua di Sumatera Barat, Kota Payakumbuh sudah seharusnya mempersiapkan berbagai kebijakan untuk lonjakan jumlah penduduk ke depan namun semakin berkurangnya lahan produktif. Maka dari itu dibutuhkan sebuah rumah susun, atau biasa disingkat rusun, sebagai solusi akan persoalan lahan dan jumlah penduduk tersebut. Adapun rusun adalah bangunan gedung bertingkat yang menyediakan hunian vertikal, artinya, unit-unit tempat tinggalnya ditumpuk ke atas, bukan melebar seperti rumah tapak.
Ciri-ciri umum rumah susun terdiri dari banyak lantai. Inilah ciri paling jelas yang membedakan rusun dengan rumah tapak. Biasanya rusun memiliki minimal 3 lantai tapi bisa juga lebih tinggi tergantung jenis dan fungsinya. Adapaun setiap unit terpisahnya yaitu setiap unit dalam rusun merupakan hunian yang terpisah dan mandiri, layaknya rumah tapak. Unit ini bisa dimiliki (rusun kepemilikan) atau disewa (rusun sewa).
Sedangkan fasilitas bersama di rumah susun biasanya dilengkapi dengan berbagai fasilitas bersama yang dapat digunakan oleh seluruh penghuni, seperti lift, tangga darurat, tempat parkir, taman, keamanan, dan lain-lain. Adapun pengaturan kepemilikan khusus yaitu kepemilikan rusun umumnya melibatkan konsep kepemilikan bersama. Artinya, selain memiliki unit sendiri, penghuni juga memiliki kepemilikan bersama atas bagian-bagian gedung yang digunakan bersama, seperti tanah, tangga, dan fasilitas lainnya.
Ada beberapa jenis rumah susun, di antaranya Rusunami (Rumah Susun Milik) yaitu unit-unit dalam rusunami dapat dimiliki oleh penghuni secara individu. Jenis lainnya adalah Rusunawa (Rumah Susun Sewa Sederhana) yaitu unit-unit dalam rusunawa disewakan dengan harga terjangkau, biasanya ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Sedangkan Rusun komersial yaitu unit-unit dalam rusun komersial dapat dimiliki atau disewa dengan harga pasar bebas.
Sejarah rumah susun (rusun) memiliki sejarah yang cukup panjang dan menarik, dengan perkembangan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kepadatan penduduk, kebutuhan masyarakat, dan kebijakan pemerintah. Adapun gagasan awal pembangunan rusun muncul di Jakarta pada tahun 1950-an akibat kepadatan penduduk dan kebakaran besar di beberapa kawasan. Dan Wali Kota Jakarta saat itu, Sudiro, mengusulkan pembangunan rusun untuk menampung warga terdampak kebakaran, namun ditolak oleh Dewan Perwakilan Kota Sementara (DPKS). Meski ditolak, konsep rusun terus berkembang seiring kebutuhan hunian layak di perkotaan yang semakin mendesak.
Adapun pembangunan rusun sudah dimulai banyak dilakukan pada tahun 1970-an, diawali dengan rusun sederhana untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Setelah era reformasi, konsep rusun mulai berkembang, tidak hanya untuk masyarakat berpenghasilan rendah tetapi juga untuk kelas menengah dan atas. Selanjutnya muncul konsep rusun mewah (apartemen) dengan fasilitas lengkap dan harga jual yang tinggi. Dan pemerintah juga mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong pembangunan rusun, seperti program pembangunan rusun sederhana sewa (Rusunawa) dan rusun sederhana milik (Rusunami).
Adapun tantangan pembangunan rusun di masa depan yaitu seperti keterbatasan lahan, stigma negatif terhadap rusun, dan pengelolaan yang belum optimal. Dan pemerintah ke depan harus berupaya mengatasi tantangan tersebut dengan membangun rusun yang lebih berkualitas, meningkatkan fasilitas, dan memperbaiki sistem pengelolaan. Dan rusun diprediksi akan menjadi solusi hunian yang semakin penting di masa depan, terutama di perkotaan dengan keterbatasan lahan.
Adapun pembangun rusun di Kota payakumbuh dapat membantu masyarakat berpenghasilan rendah di Payakumbuh untuk memiliki hunian yang layak dan terjangkau. Berikut ini beberapa desain rumah susun di masa depan di Kota Payakumbuh.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau