Burung Sikikih

 

Burung Sikikih. Foto: petpintar.com

Burung Sikikih biasanya hidup di hijaunya rawa pesisir, rimbunnya hutan mangrove, dan pertemuan air tawar dan asin di muara sungai, bersemayamlah permata kecil berbulu biru. Nama lain burung sikikih yaitu raja udang biru atau burung udang biru (alcedo coerulescens). Ukurannya yang mungil berbanding terbalik dengan pesona visualnya yang memukau.

     Tubuh bagian atasnya bagaikan safir yang berkilauan, dengan semburat hijau yang menambah kedalaman warnanya. Pita biru kehijauan yang melintang di dadanya menjadi bingkai elegan bagi mahkota dan penutup sayap yang dihiasi garis-garis hitam kebiruan yang halus. Sebuah garis biru terang keperakan bagai jejak cahaya membelah punggung hingga tunggirnya, seringkali tersembunyi di balik sayap yang terlipat anggun saat bertengger. Kontras yang mencolok hadir pada bagian bawah tubuhnya: kekang, petak belakang telinga, dagu, tenggorokan, perut hingga pantat memancarkan warna putih bersih, senada dengan penutup bawah sayapnya. Iris matanya yang cokelat gelap memancarkan kecerdasan,berpadu serasi dengan paruhnya yang kehitaman dan kaki merah-cokelat gelap yang kokoh.

      Di udara, burung sikikih menjelma menjadi panah kecil yang lincah. Terbangnya cepat dan bersemangat, seringkali diiringi pekikan nyaring bernada tinggi, "tyiiw.. tyiiw", yang menjadi ciri khas kehadirannya di habitatnya. Suara ini bagai seruan riang yang memecah kesunyian alam. Habitatnya yang spesifik di wilayah pesisir, hutan mangrove, dan muara sungai mencerminkan adaptasinya terhadap lingkungan yang kaya akan sumber makanan. Burung ini sering terlihat bertengger dengan sabar di dahan-dahan pohon di tepi sungai, saluran irigasi, tambak ikan, dan pinggiran hutan mangrove, mengamati dengan tajam pergerakan mangsanya di bawah permukaan air. Ikan-ikan kecil menjadi santapan utamanya, dilengkapi dengan serangga akuatik dan krustasea yang menambah variasi dalam dietnya.

       Insting reproduksinya mendorong burung sikikih untuk menggali liang di tebing tanah sebagai sarang yang aman bagi telur-telurnya yang berwarna keputih-putihan. Dalam sekali perkembangbiakan, sang betina dapat menghasilkan 3 hingga 5, bahkan kadang-kadang 6 butir telur. Catatan perkembangbiakannya terjadi pada bulan April-Juni, Agustus, dan Oktober, serta pengamatan perilaku berpasangan mengindikasikan ritme kehidupan yang selaras dengan kondisi lingkungan setempat. Meskipun umumnya ditemukan di wilayah pesisir, keberadaannya juga tercatat di habitat-habitat yang sesuai hingga ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Teori mengenai kemungkinan kedatangannya yang relatif baru di Sumatra dari Jawa, yang kemudian menetap, menambah dimensi menarik dalam studi biogeografinya. Sebagai spesies monotipik, burung sikikih tidak memiliki anak jenis, menjadikannya entitas unik dalam keluarga Alcedinidae.    

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh  

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url