Berburu Penanda Status Sosial

Berburu di Zaman Hindia Belanda. Foto: voi.id 

     Selain ke surau, ke lapau (kedai kopi), dan ke rantau, anak laki-laki Minangkabau sejak dulu juga sudah suka berburu. Termasuk laki-laki Pajacombo. Para angku lareh menunggang kuda dan dikawal oleh be-berapa orang pegawai sebagaimana meniru gaya pejabat kolonial Be-landa yang bersiap berlari-lari anjing mengikuti ke mana arah kuda tuanku lareh itu.

     Berburu menjadi penanda gaya hidup dan status kelas sosial. Sema-kin gagah kudanya atau semakin banyak penggiringnya, tentu sang angku-angku itu semakin tinggi pula status sosialnya dalam pergaulan elit pejabat yang menjadi kaki tangan para penjajah itu.

     Tidak ada yang merasa dijajah atau menjajah. Pejabat kolonial Belan-da itu datang ke dunia timur yang jauh ini merasa sedang berbagi per-adaban. Menebarkan kemajuan di daerah-daerah terbelakang yang mi-nim sekali pengetahuan administrasinya. Mereka masih sering ber-pe-rang sesama mereka. Ada banyak kelompok-kelompok yang meng-ganggu stabilitas keamanan di masyarakat. Mereka sering merampok di jalan-jalan. Menjadikan pasar-pasar sebagai pusat pertaruhan. Mengadu ayam, puyuh, dan ketitiran. Ada juga mereka mengadu kerbau sampai salah satu kerbau terluka ataupun cacat dan harus dibantai di lokasi. Se-mua itu ditonton orang banyak. Sama seperti menonton Semen Padang FC dengan Persib Bandung zaman sekarang, misalnya. Setiap masing-masing kubu ada pendukungnya.

     Tapi ada yang harus diingat oleh para kolonial itu bahwa sebelum mereka datang, negeri ini telah berdiri negara-negara besar yang tum-buh silih berganti. Negara-negara itu memiliki tatanan hukum negara, undang-undang kemasyarakatan, undang-undang adat. Tertulis atau-pun tersirat. Dan ketika para kolonial itu datang dan melancarkan poli-tik adu domba, maka negeri-negeri ini porak-poranda dan memiliki kualitas hidup yang memprihatinkan. Belum lagi dalam pendidikan yang tertinggal. Ataupun sifat kemalasan yang dimanjakan oleh bumi ini yang subur dan terus dibudidayakan oleh para kolonial. Selagi me-reka cukup makan bersama keluarga besarnya untuk apalagi bersusah-susah membanting otak dan keringat.

     Dengan begitu lamanya menjadi bangsa yang terbelakang dan keku-rangan penghormatan maka orang-orang pribumi itu merasa sangat tersanjung memangku jabatan-jabatan yang diberi oleh pejabat kolonial. Mereka sangat bangga mengatur-ngatur saudara sebangsanya. Dilim-pahi kehormatan dan kepunyaan finansial yang luar biasa. Jangan heran seorang angku lareh bisa memiliki perabotan-perabotan rumah yang luar biasa, koleksi kuda-kuda yang lengkap dengan perawatnya. Dan bahkan biaya makan seekor kuda tunggangan untuk berpacu di gelanggang atau untuk berburu lebih besar dari biaya gaji yang dike-luarkan untuk perawatnya. Dan tentu harga biaya seekor kuda akan le-bih mahal dari biaya satu keluarga besar setiap bulan. Tapi apa susah-nya bagi angku-angku lareh itu, mereka mendapatkan tunjangan ini itu setiap bulan. Belum lagi persenan pajak yang dipungut dari kaumnya. Maka jabatan-jabatan itu pun menjadi angan-angan terbesar bagi pri-bumi.

     Tradisi berburu saat itu bukan berburu babi seperti sekarang. Mere-ka berburu harimau dengan gaya pakaian elit yang ditularkan pejabat kolonial. Para angku lareh akan bersanding berkuda dengan para pejabat kolonial. Membawa senapan, tombak, panah, dengan para peng-giring masing-masing yang berlari-lari anjing pula mengejar untuk me-layani tuan-tuannya.

     Siapa yang dapat membunuh seekor harimau akan mendapatkan kehormatan baru dalam pergaulan kelas elit sosial.  Seperti berita berburu harimau oleh masyarakat Pajacombo yang dikoleksi oleh Tropen Mu-seum  Belanda ini dipublikasikan tahun 1895 (lihat Bab Data Foto). Atau juga laporan dari Djawatan Penerangan Propinsi Sumatera Tengah ya-ng ditulis lengkap di bawah ini:

     Bila orang melihat bangunan-bangunan tempat-kediaman (rumah adat) di Sumatera Barat, jang bagian atapnja dihiasi dengan empat buah gondjong (puntjak) jang runtjing mendjulang langit; melihat wanita-wanita atau gadis-gadis berpakaian serba hitam serba longgar, lengan dan lehernja berhiaskan sulaman benang keemasan, sarung dan selendang jang sangat kaja dengan ukiran-ukiran urai, berteng-kuluk (tutup kepala) jang pada udjung kiri-kanannja diruntjingkan sebagai djuga dengan gondjong rumah tempat kediaman mereka dan diberi dengan perhiasan-perhiasan jang serba keemasan pula; melihat laki-laki separuh baja berpakaian serba hitam, berbadju dan bertjelana longgar, dikepalanja terlilit sehelai destar jang seluruh pinggirnja disulami dengan benang emas, dipinggangnja melilit sehelai sarung hitam jang berbentuk dengan segi tiga, terkadang mereka mengepit seekor ajam djantan sabungan (djago) atau mendjindjing sangkar burung ketitiran (perkutut) atau burung balam dan pujuh dan terka-dang menjandang sebatang tombak dan menjeret seekor andjing perburuan, orang akan berkata: ‘Itulah Minang-kabau’.” (Dikutip dari: Djawatan Penerangan Propinsi Sumatera Tengah, Repub-lik Indonesia: Propinsi Sumatera Tengah. Jakarta: Kementerian Penerangan, [1953] via Dokumentasi di blog Suryadi Sunuri).

    

     Lain halnya sekarang kalau masyarakat Payakumbuh pergi berburu; acara berburu hari ini sudah termasuk dalam program pemerintah daerah di bawah arahan Dinas Pariwisata dan Persatuan Berburu di Indonesia.

     Para pecandu berburu memelihara anjing-anjing terlatih dan pilihan. Bertingkat-tingkat pula harganya. Mulai dari ratusan ribu hingga pulu-han juta rupiah. Untuk perlu dicatat, harga 2 gram emas hari ini sekitar 700 ribu rupiah. Dan harga anjing-anjing itu akan dihargai hingga pulu-han juta rupiah. Tergantung seberapa pandai dan jenis apa ras anjing itu.

     Anjing-anjing yang pandai berburu babi akan membuat pemilik anjing itu sangat bangga jika anjing-anjingnya pulang dengan mulut berlumuran darah. Dan sesama pecandu buru, mereka terkadang saling bertukar anjing berburu dengan tambahan hitung-hitungan uang sesuai kesepakatan. Bahkan saking ingin memilikinya, seorang pecandu ber-buru kepada seekor anjing milik orang lain, tak apalah mendapatkan rantai atau kala anjingnya, jika pemiliknya tidak berkenan menjual atau menukar anjingnya itu.

     Anjing-anjing berburu yang pandai dan sehat itu dipelihara dengan memberi makanan spesial. Anjing itu akan diberi telur dan susu meski terkadang ada juga pemiliknya lebih sering makan ikan asin. Dan untuk mandi anjing itupun menggunakan sampo wangi dan nyaris rutin di bawa jalan-jalan di kala sore atau pagi.

     Hari-hari berburu biasanya di hari Minggu. Terkadang bisa berburu ke Pangkalan, ke Sungai Beringin, Taram, Situjuh, dll. tergantung jad-wal di mana alek berburu akan digelar pada minggu itu. 

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url