Biawak/Tangkawak

 

 

Bantaran Batang Agam, dan sungai-sungai lainnya yang meliuk di Payakumbuh, menyimpan kenangan yang mungkin tak lagi sama. Sebelum dekade lalu, lanskap sungai ini diramai-kan oleh kehadiran sang pemangsa air, biawak. Sosoknya yang mirip buaya mini, dengan sisik kasar dan lidah bercabang, menjadi pemandangan sehari-hari. Sensasi terkejut bercampur ngeri menyergap siapa saja yang tak terbiasa, ketika biawak tiba-tiba melompat ke sungai, atau berjemur santai di tepian. Kehadiran mereka, meski mengagetkan, adalah bagian dari ekosistem sungai yang tak terpisahkan.

      

Namun, keberadaan biawak bukan tanpa masalah. Sebagai predator alami, mereka memangsa ikan-ikan di sungai, menjadi ancaman bagi populasi ikan lokal. Tak hanya itu, kolam-kolam ikan milik warga pun tak luput dari serbuan mereka. Bagi para peternak ikan, biawak menjelma menjadi hama yang merugikan, merusak mata pencaharian dan mengganggu keseimbangan ekosistem budidaya. Di sisi lain, biawak memainkan peran penting sebagai pemakan bangkai. Setiap bangkai hewan yang hanyut di sungai, dari ayam hingga anjing, menjadi santapan empuk bagi mereka. Perilaku ini, meski terkesan menjijikkan, sebenarnya merupakan bagian dari proses daur ulang alami. Biawak membantu membersihkan sungai dari bangkai, men-cegah penyebaran penyakit dan menjaga kebersihan lingkungan.

      

Dilema biawak di bantaran Batang Agam mencerminkan kompleksitas hubungan manusia dan alam. Di satu sisi, mereka adalah hama yang merugikan, mengancam mata pencaharian dan keseimbangan ekosistem. Di sisi lain, mereka adalah bagian penting dari rantai makanan, berperan dalam menjaga keber-sihan sungai. Perubahan lanskap sungai dalam satu dekade terakhir mungkin telah mengubah dinamika ini. Populasi biawak mungkin telah berkurang akibat perburuan, hilangnya habitat, atau perubahan lingkungan lainnya. Namun, pertanyaan tentang bagaimana menyeimbangkan kepentingan manusia dan keles-tarian alam tetap relevan.

      

Mencari solusi yang berkelanjutan menjadi tantangan bagi masyarakat Payakumbuh. Pengendalian populasi biawak mung-kin diperlukan untuk melindungi peternak ikan, namun pen-dekatan yang humanis dan ramah lingkungan harus diutamakan. Edukasi masyarakat tentang peran biawak dalam ekosistem su-ngai juga penting untuk membangun kesadaran dan mengurangi konflik. Keberadaan biawak di bantaran Batang Agam adalah pengingat bahwa alam memiliki dinamika dan kompleksitasnya sendiri. Manusia, sebagai bagian dari alam, memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan harmoni antara kepentingan sendiri dan kelestarian lingkungan. Hanya dengan pemahaman dan kerjasama, kita dapat hidup berdampingan dengan alam, termasuk dengan sang pemangsa sungai, biawak.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Mencatat Nama-Nama Hewan Lokal di Payakumbuh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url