EKS. MASJID SUNGAI LANDAI (MASJID AKBAR) DI AIR TABIT
|
Masjid Akbar. Foto: FB Masjid Akbar |
Di jantung nagari Air Tabit, berdiri kokoh sebuah masjid yang bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi bisu perjalanan panjang sejarah dan dakwah Islam di Minangkabau. Masjid Akbar Air Tabit, yang dulunya dikenal sebagai Masjid Sungai Landai atau Surau Tuo Bosa, menyimpan jejak langkah seorang ulama besar, Haji Miskin, dan muridnya yang kelak menjadi tokoh penting dalam gerakan Paderi, Tuanku Nan Pahit.
Masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak akhir tahun 1400 Masehi, menjadikannya masjid tertua di Air Tabit. Keberadaannya yang telah berabad-abad lamanya, menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat setempat. Namun, di masa awal abad ke-19, masjid ini menjadi lebih istimewa ketika Haji Miskin, seorang ulama yang baru kembali dari Mekah, menjadikannya sebagai basis dakwahnya.
Haji Miskin, bersama dua ulama lainnya, Haji Piobang dan Haji Sumanik, membawa semangat pemurnian ajaran Islam yang dikenal sebagai gerakan Paderi. Mereka menyerukan penegakan syariat Islam. Masjid Sungai Landai menjadi pusat penyebaran gagasan-gagasan ini, tempat di mana Haji Miskin menyampaikan ceramah-ceramahnya yang penuh semangat, membakar semangat para pengikutnya untuk melakukan perubahan.
Di antara para murid Haji Miskin, seorang pemuda bersuku bendang bernama Malin Putiah menarik perhatian. Kecerdasan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu agama membuatnya menonjol di antara yang lain. Malin Putiah, yang kemudian dikenal dengan gelar Tuanku Nan Pahit, kelak menjadi salah satu pemimpin utama gerakan Paderi. Masjid Sungai Landai menjadi saksi bisu transformasi Malin Putiah dari seorang pemuda pencari ilmu menjadi seorang ulama dan pemimpin yang disegani. Di sinilah ia menyerap ilmu agama dari Haji Miskin, berdiskusi tentang persoalan-persoalan keagamaan dan sosial, serta mempersiapkan diri untuk memikul tanggung jawab besar di masa depan.
Peran Masjid Sungai Landai tidak hanya terbatas pada kegiatan dakwah dan pendidikan. Masjid ini juga menjadi tempat berkumpulnya para pengikut gerakan Paderi untuk merencanakan strategi dan mengatur gerakan. Dari sinilah, semangat perlawanan terhadap praktik-praktik yang dianggap menyimpang menyebar ke seluruh Minangkabau. Kini, Masjid Akbar Air Tabit tetap berdiri kokoh meski telah dengan bangunan baru, menjadi simbol sejarah dan kebanggaan masyarakat setempat. Nama Masjid Sungai Landai atau Surau Tuo Bosa yang melekat padanya, menjadi pengingat akan masa lalu yang penuh perjuangan dan semangat dakwah. Jejak langkah Haji Miskin dan Tuanku Nan Pahit, yang pernah menggema di masjid ini, terus menginspirasi generasi penerus untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai agama dan budaya Minangkabau.
Masjid Akbar Air Tabit bukan hanya sebuah bangunan bersejarah, tetapi juga sebuah monumen hidup yang menyimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan semangat perubahan. Ia adalah saksi bisu lahirnya seorang Tuanku Nan Pahit, dan bukti nyata bahwa dari tempat sederhana, dapat lahir pemimpin-pemimpin besar yang mengubah sejarah.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau