Menonton Televisi di Zaman Dulu

 

Acara nonton TV zaman dulu. Foto: solo.tribunnews.com

     Anak-anak zaman dahulu cukup beruntung dengan keadaannya yang masih bersahaja. Siaran televisi saat itu masih TVRI dan siang ha-rinya ada TPI yang menayangkan film-film Indonesia yang disensor ketat. Selebihnya acara Album Minggu, Berpacu Dalam Melodi, Dunia Da-lam Berita, film Unyil, ataupun Film Sengsara Membawa Nikmat yang di-putar di Minggu pagi. Itupun menonton di rumah tetangga yang penuh sesak didatangi oleh orang sekampung atau menonton di Balai Pos Ronda yang nyaris hidup 24 jam.

     Televisi sudah muncul di Payakumbuh sejak tahun 1970. Tapi masih hitungan jari orang yang memilikinya. Dan itupun dihidupkan meng-gunakan aki. Dan tidak berapa lama setelah itu, PLTA Batang Agam selesai dibangun maka sudah semakin teranglah kotamadya yang ma-sih seumur jagung ini. Dengan adanya TV, tentu sepakbola piala dunia sudah bisa ditonton, petinju Muhammad Ali juga bisa ditonton pula, maka semakin terbuka masyarakat kota ini melihat perkembangan dunia luar.

     Hiburan mewah lainnya yaitu adanya layar tancap yang diadakan oleh Deppen (Departemen Penerangan) dengan diputarnya film Dono Kasino Indro (Warkop DKI) atau film kungfu Cina seperti Jet Lee, Donie Yen, atau Jackie Chen. Tentu acara itu turut dimeriahkan pula oleh tu-kang jualan kacang rebus, tebu tusuk dari ranting bambu, atau sate kerucut yang berupa kerupuk pedas yang disiram kuah sate. Namun terkadang acara itu terpaksa bubar sebelum film selesai karena hujan mengguyur lokasi layar tancap itu. Dulu kantor Deppen ada di kantor Dinas PUPR sekarang dengan dibuatkan sebuah tempat TV yang bisa ditonton dari empat arah.

     Dan untuk TV umum pertama ada di depan Kantor Bupati lama yang menyatu dengan Lapangan Paliko (area Balai Kota sekarang).  Ka-lau malam minggu sesudah orang-orang menonton film di layar tancap di Lapangan Paliko maka pulangnya bisa melanjutkan menonton TV bersama. Biasanya film tengah malam di TVRI juga bagus-bagus. Tentu pedagang makanan juga cukup ramai pula di sekitaran TV umum itu, kata Doni Dwinanda mengenang masa mudanya.

     Kegemaran menonton lainnya yaitu dibukanya oleh sebagian warga menonton berbayar dengan memutar kaset video. Film terkenal dari video kaset saat itu adalah Megaloman yang memiliki kesaktian rambut api. Mungkin saja Megaloman itu nenek moyangnya film Ultraman. Dan untuk bisa menonton film itu maka dipungutlah bayaran Rp.100, lalu semua pintu di rumah itu ditutup. Bagi anak-anak yang tak punya uang tentu hanya bisa mendengarkan suara film dari balik dinding rumah. Dan kalau beruntung, film itu bisa diintip melalui celah-celah dinding rumah yang biasanya pada masa itu masih berumah papan.

     Pada tahun 1990-an, sudah mulai ada televisi warna yang menggu-nakan parabola. Film-film saat itu seperti Satria Baja Hitam, Mongkey King, Gerhana, Deru Debu, ataupun telenovela Meksiko seperti Maria Mercedes. Belum terlalu banyak siaran parabola nasional saat itu. Terka-dang TV 1 dan TV 3 dari Malaysia lebih sering pula ditonton karena film-film India banyak diputar di sana seperti Amita Bachan. Dan pada masa-masa ini, berbagai pengalaman personal dalam perjuangan untuk bisa menonton televisi di rumah tetangga tentu berbagai-bagai pula pengalaman yang dialami anak zaman dulu.

     Zaman pun terus bergeser sampai tahun 2000-an yang sudah mulai marak mesin VCD maka rental VCD bajakan juga mulai berjamuran. Rental VCD paling awal dan ramai dulu ada di Labuh Basilang, Rental VCD Ratu, dan ada pula di depan Soto Che juga lengkap koleksinya. Harga rental saat itu masih Rp.2.500 untuk sebuah film dengan jaminan KTP. Dan film-film yang digemari saat itu adalah film-film Hollywood yang dibintangi oleh Brad Pit, Cut Noris, Arnol. Namun film India juga memiliki penggemar yang tinggi terutama bagi kalangan perempuan. Maka film Khuch Khuch Hota Hai yang dibintangi oleh Shahrul Khan dan Salman Khan itu sangat menguras air mata meski durasinya ham-pir 3 jam.

     Pada tahun 2008, warnet-warnet sudah mulai menjamur di Paya-kumbuh. Lalu kebiasaan hobi menonton pun semakin terlalaikan de-ngan mainan baru yaitu internet. Dan beberapa tahun ke depan, akses internet semakin mudah dengan dikeluarkannya ponsel android de-ngan harga terjangkau. Maka berguguranlah rental-rental VCD dan warnet itu. Sehingga dulu film-film terbaru hanya bisa ditonton di bios-kop maka sekarang sudah bisa diunduh di sebuah situs film yang se-dang bermain kucing-kucingan dengan Kominfo. Dan film-film itu pun bisa ditonton di android yang hanya sedikit lebih besar dari telapak tangan.

     Kembali kita kepada memori warga kota tentang hiburan menonton ini, Doni Dwinanda menerangkan bahwa TV untuk umum pertamanya ada di depan Kantor Bupati lama yang menyatu dengan Lapangan Paliko. Ada tugu 17 Agustus di halaman kantor itu. Ada juga parkir mobil robur. Halaman Kantor Bupati zaman itu semacam alun-alun. Tempat orang berkumpul kalau sore. Acara olahraga paling semarak adalah sepakbola di lapangan Paliko yang sering disinggahi kesebela-san-kesebelasan hebat di zaman itu. Wasit legendarisnya adalah Pak Nazar Chan yang memiliki Optik NC di Pasar Payakumbuh.

     Begitu pula dengan Rikha Noor menambahkan informasi bahwa te-levisi berwarna sudah ada di tahun 1980-an dan keluarganya sudah memilikinya. Sedangkan di tahun 1989 ia sudah memiliki parabola yang waktu itu baru hitungan jari orang yang memiliki. Saat itu ia baru bisa menonton siaran TV 1 dan TV3 Malaysia karena TV swasta di Indonesia belum ada, katanya.

     Tambahnya lagi, sebelum era VCD terlebih dahulu muncul mesin Video VHS sekitar tahun 1985-an yang juga ada rental penyewaannya. Terus sekitar tahun 1989-an muncul lagi Laser Disk yang juga bisa dirental. Baru sekitar tahun 1995-an muncul VCD dan tahun 2000 baru muncul DVD. Video VHS itu cukup marak di era tahun 1980-an. Saat itu banyak juga yang punya dan ada juga di Rental Ratu. Kalau LD memang hitungan jari yang punya tapi di Ratu juga ada rentalnya. Za-man itu baru hanya Ratu yang buka rental dan yang lain belum ada, katanya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url