Pacu Jawi Sejak Zaman Belanda

 

Pacu Kuda Tahun 1906. Foto: sumbartempodulu.blogspot.com


     Selain pacu kuda, Pajacombo juga telah memiliki pacu jawi (sapi) sejak masa kolonial Belanda. Tidak tahu persis sejak kapan dilestarikan namun liputan6.com (2003) yang pernah mewawancarai seorang tokoh penyelenggara pacu jawi di kota ini mengatakan sudah ada sejak tahun 1930.

     Pacu jawi ini diadakan setelah musim panen dan bajak sawah. Tra-disi pacu jawi ini masih tetap terpelihara di Tanjung Anau di Koto Nan Gadang, Nagari Payobasung, Padang Baru di Tiakar, Taram, Bukit Limbuku, Batu Balang, Koto Tuo (Syafrizal Ambo, 2020). Pernah seta-hun lalu tanpa sengaja saya melihat acara pacu jawi di Tanjung Anau Koto Nan Gadang ini di sebuah tayangan televisi swasta ibukota. Pro-gram acara itu bernama My Trip My Adventure. Dan tentu acara tradisi yang sangat unik ini ternyata sangat menarik perhatian orang-orang dari luar daerah.

     Pacu jawi ini juga termasuk dalam program dari Dinas Pariwisata Payakumbuh. Sayangnya acara ini harus menunggu musim panen selesai dulu baru bisa diadakan acara. Jika saja disewa sebuah sawah oleh Dinas Pariwisata, tentu bisa setiap hari lomba pacu jawinya.

     Perbedaan pacu jawi di Payakumbuh ini dengan pacu jawi di Paria-ngan Tanah Datar atau dengan karapan sapi di Madura adalah para joki juga ikut berlari di tengah sawah bersama sapi balapnya. Kesamaan dari semua pacuan ini yaitu sama-sama memakai karapan yang dipakai untuk membajak. Karena ini untuk pertandingan maka karapannya dibuat lebih ringgan sebagai ganti pegangan atau tali les dalam pacuan kuda.

     Pada pacu jawi Payakumbuh ini para joki yang berlari bersama jawinya tidak boleh keluar jalur dan harus sampai di garis finis. Banyak juga para joki tersungkur di dalam lumpur sawah duluan sebelum men-capai finis karena tidak kuat mengimbangi cepatnya lari jawi balapan-nya itu. Dan bisa ditebak, para penonton akan tertawa riuh melihat joki yang sudah berkubangan lumpur sawah itu. Dan joki itu gagal menjadi juara meski jawinya terdepan di garis finis.

     Kelas pacu jawi ini terdiri dari 3 kelas yaitu kelas I untuk sapi yang berumur di bawah satu tahun; kelas II untuk sapi di usia maksimal 2 tahun; kelas III untuk sapi yang berusia di atas 3 tahun. Dan setiap pemenang di kelas itu akan diadu lagi bernama kelas boko. Menang di kelas boko ini akan meningkatkan harga sapi berlipat-lipat bagi para pemiliknya.

     Umumnya sapi-sapi pacuan itu adalah hewan peliharaan biasa. Pacuan ini semata-mata untuk hiburan. Tanda syukur musim panen ke-marin cukup bagus. Semua orang berhak bersenang-senang. Dan pacu-an jawi ini bisa menghibur semua kalangan, bahkan anak-anak.

     Penonton pacu jawi ini umumnya diminati sebagai hiburan keluarga. Seorang ibu akan bersenang hati membawa anaknya yang sudah ber-umur satu tahun ke atas untuk menikmati hiburan ini. Panitia tidak terlalu bersusah payah menyiapkan hadiah untuk para pemenang. Cukup seekor kambing sebagai hadiah tertinggi sudah membuat acara berjalan meriah. Bahkan dengan begitu murahnya hadiah yang tidak terlalu besar, acara-acara seperti ini sering digunakan oleh para politisi untuk mendulang suara dalam pemilu. Dan hal itu tidak apa-apa. Ma-syarakat butuh hiburan dan politisi butuh sosialisasi mencari suara.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url