PARIT ZAMAN JEPANG DI TIAKAR
Lubang Parit di Zaman Jepang. Foto: Feni Efendi
Di tengah hamparan sawah Nagari Tiakar, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, tersembunyi sebuah saksi bisu dari masa lalu yang kelam: Lubang Parik. Sebuah parit dengan kedalaman sekitar tiga meter dan lebar empat meter, membentang sepanjang kurang lebih satu kilometer, dari Sumur Cindai hingga Sari Bulan. Parit ini bukan sekadar saluran air biasa, melainkan jejak ambisi tersembunyi tentara Jepang yang pernah menduduki wilayah ini.
Masa pendudukan Jepang di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat, meninggalkan luka mendalam. Di Nagari Tiakar, luka itu terukir dalam bentuk Lubang Parik. Menurut penuturan para tetua, parit ini dibangun sebagai jalur rahasia, agar tentara Jepang dapat bergerak tanpa terdeteksi. Bayangkan, di tengah rimbunnya pepohonan dan hijaunya sawah, sebuah terowongan tersembunyi membentang, siap menelan pasukan dan perlengkapan perang.
Dulu, ketika penulis kecil, Lubang Parik hanyalah bagian dari lanskap Tiakar. Penulis sering melihatnya, bahkan bermain di sekitarnya, tanpa pernah benar-benar memahami makna di baliknya. Bagi penulis, itu hanyalah "lubang parit", tempat bermain yang unik. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika penulis mulai menggali memori kolektif masyarakat, kesadaran itu muncul. Lubang Parik bukan sekadar lubang, melainkan sebuah artefak sejarah yang terlupakan.
Ironisnya, di tengah upaya pelestarian sejarah, Lubang Parik justru terabaikan. Parit-parit lain yang sejenis telah ditimbun, hilang ditelan zaman. Hanya Lubang Parik yang tersisa, bersembunyi di balik persawahan dan aliran Batang Sikali. Ia menjadi pengingat bisu akan masa lalu yang penuh gejolak, masa ketika ketakutan dan kecurigaan merajalela.
Lubang Parik adalah metafora yang kuat. Ia melambangkan ambisi tersembunyi, rahasia yang terkubur, dan memori yang terlupakan. Ia juga menjadi simbol ketahanan masyarakat Tiakar, yang mampu bertahan di tengah tekanan dan kesulitan. Meski masa pendudukan Jepang telah lama berlalu, jejaknya masih terlihat jelas di Lubang Parik.
Kini, saatnya kita membuka kembali lembaran sejarah yang tersembunyi. Lubang Parik sebuah monumen yang harus dilestarikan. Ia adalah bagian dari identitas Nagari Tiakar, bagian dari sejarah. Melalui Lubang Parik, kita dapat belajar tentang masa lalu, memahami masa kini, dan merencanakan masa depan yang lebih baik. Mari kita jadikan Lubang Parik sebagai ruang edukasi, tempat di mana generasi muda dapat belajar tentang sejarah bangsanya. Mari kita jadikan Lubang Parik sebagai pengingat, bahwa perdamaian dan kemerdekaan adalah anugerah yang harus dijaga. Dan mari kita jadikan Lubang Parik sebagai simbol, bahwa bahkan di tengah kegelapan, harapan selalu ada.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau