SMA Negeri 1 Payakumbuh
SMA Negeri 1 Payakumbuh. Foto: Feni Efendi
Sekolah ini berdiri 15 September 1955 dengan gedung pertamanya berlokasi di SMP N 9 di dekat Makam Pahlawan saat ini. Di antara nama-nama yang mendirikan SMA 1 Payakumbuh ini adalah Darwis Dt. Tumanggung (Bupati 50 Kota), Damanhuri ZA, Alamsuddin, Zamzami Kimin, Rahman, Djayusman, dll. Dan sekarang sekolah ini beralamat di Jalan Merapi No.4 Tiakar, Kec. Payakumbuh Timur, Payakumbuh.
Di antara Kepala SMA Negeri 1 Payakumbuh semenjak 1955 sebagai berikut Djayusman (1955-1956), A. Kamal (1956-1957), R.M. Rumit Hasan Putera Negara (1957-1958), Syamsukar Bachtiar (1959-1969), Yohanis BA (1969-1974), Basyirudin (1974-1977), Bustami Dt. Bijo Anso (1977-1987), Hilmi K. BA (1987-) dan sekarang Drs. Erwin Satriadi, M.Pd dibantu oleh empat orang wakil yaitu Edizon M.Si (wakil kepala sekolah bidang kurikulum), Beni Wandri, S.Pd (wakil kepala sekolah bidang kesiswaan), Oria Lasmana, M.Pd (wakil kepala sekolah bidang Humas dan WMM), Yulida, S.Pd (wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana).
Pada tahun 1970 Payakumbuh mendapat tambahan sebuah Sekolah Menengah Tingkat Atas yang benama SMPP (Sekolah Menengah Per-siapan Pembangunan) yang berlokasi di Bukit Sitabur Kodya Paya-kumbuh dengan ditambahkannya mata pelajaran ketrampilan antara lain menjahit pakaian pria dan wanita, menganyam rotan dan perbeng-kelan. Dan mulai sejak tahun 1974 siswa SMA Negeri 1 Payakumbuh belajar di SMPP Bukit Sitabur dengan nama SMA Negeri 1/SMPP sam-pai kepada ijazah tetap bernama SMA Negeri 1/SMPP dan sementara itu lokasi SMA Negeri 1 (SMP Negeri 9 saat ini) ditempati oleh STM Ne-geri Payakumbuh.
Pada tahun pertengahan 1977 dilakukan pemisahan antara SMA Negeri 1 dengan SMPP dan lokasi SMA 1 dipindahkan ke Tiakar (lokasi sekarang) dengan kepala sekolah pertamanya Bustami Dt. Bijo Anso pada 17 Juli 1977. Dan di sana, sebelumnya juga ada sekolah SD Negeri 1 yang telah dibangun sejak zaman kolonial Belanda. Namun gedung sekolah peninggalan zaman kolonial itu telah dirobohkan sekitar satu dekade yang lalu.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau