Adri Sandra
Adri Sandra lahir pada 10 Juni 1964 di Padang Japang, Nagari VII Koto Talago, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, adalah salah satu figur penting dalam dunia sastra Indonesia, khususnya puisi. Ia dikenal sebagai penyair yang produktif dan inovatif, dengan karya-karyanya yang sering kali mencetak rekor.
Salah satu pencapaiannya yang paling menonjol adalah rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penulis buku syair terpanjang berjudul "Hasan dan Fatimah". Karya epik ini terdiri dari 1.550 bait dan 260 halaman, sebuah pencapaian luar biasa yang menunjukkan dedikasi dan kemampuan Adri Sandra dalam merangkai kata-kata. Sebelumnya, ia juga meraih penghargaan MURI untuk pantun cerita terpanjangnya, "Dibawah Matahari Langit Badui", yang terdiri dari 1.040 bait dan 4.160 baris.
Karya-karya Adri Sandra tidak hanya panjang, tetapi juga kaya akan makna dan nilai-nilai budaya. Ia sering mengangkat tema-tema sosial, budaya, dan spiritual dalam puisinya, dengan menggunakan bahasa yang indah dan puitis. Beberapa buku puisinya yang terkenal antara lain "Luka Pisau" (2007), "Cermin Cembung" (2012), "Darah Angin" (2016) dan "Negeri Bawang Merah" (2022).
Selain menulis puisi, Adri Sandra juga aktif dalam kegiatan sastra dan budaya di Sumatera Barat. Ia pernah menjadi staf pengajar di INS Kayutanam dan Pesantren Darulfunun el Abbasyiah, serta Ketua Komite Sastra dan Teater Kabupaten 50 Kota. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan sastra menunjukkan komitmennya untuk mengembangkan dan melestarikan seni dan budaya Indonesia.
Karya-karya Adri Sandra telah dipublikasikan di berbagai media massa terkemuka di Indonesia, seperti Koran Tempo, Harian Kompas, Media Indonesia, dan lainnya. Hal ini menunjukkan pengakuan atas kualitas karyanya oleh kalangan sastra dan media. Ia telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan sastra Indonesia, khususnya puisi. Karya-karyanya yang inovatif dan kaya akan makna akan terus dikenang dan diapresiasi oleh generasi mendatang.