Batik Tanah Liek dari Dharmasraya
![]() |
| Foto: harianhaluan.com |
Batik Tanah Liek ini merupakan salah satu warisan budaya takbenda yang berasal dari Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat. Batik ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu pada proses pembuatannya yang menggunakan tanah liat sebagai pewarna alami. Sejarah Batik Tanah Liek Dharmasraya tidak dapat dipisahkan dari sejarah masyarakat setempat. Menurut para sejarawan, batik di wilayah Alam Minangkabau sudah ada sejak 5 abad yang lalu. Batik Tanah Liek sendiri diperkirakan telah ada sejak zaman Kerajaan Dharmasraya yang didirikan oleh Datuk Seri Maharajo Setia Alam pada abad ke-14.
Pada awalnya, Batik Tanah Liek hanya dibuat untuk keperluan pribadi dan keluarga. Namun, seiring waktu, batik ini mulai diminati oleh masyarakat luas dan menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Dharmasraya. Batik Tanah Liek memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dengan batik lainnya, yaitu: Batik Tanah Liek menggunakan tanah liat sebagai pewarna alami. Tanah liat tersebut diolah terlebih dahulu dengan cara direndam dalam air dan ditumbuk hingga halus. Kemudian, tanah liat dicampur dengan bahan-bahan lain seperti kapur, garam, dan gula merah. Campuran ini kemudian dioleskan pada kain dengan menggunakan canting.
Motif Batik Tanah Liek umumnya terinspirasi dari alam dan budaya Minangkabau. Beberapa motif yang populer antara lain motif kaluak paku, pucuak rabuang, batangan, rangkiang, rumah gadang, itik pulang patang, kulit kacang, burung Hong, rumput laut, dan lansek manih. Dan warna Batik Tanah Liek umumnya didominasi oleh warna-warna alami seperti coklat, kuning, dan hijau.
Batik Tanah Liek memiliki beberapa manfaat, yaitu menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat Kabupaten Dharmasraya. Batik ini banyak diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Dan Batik Tanah Liek merupakan salah satu warisan budaya takbenda yang perlu dilestarikan. Batik ini menjadi identitas dan kebanggaan masyarakat Kabupaten Dharmasraya. Selain itu, Batik Tanah Liek dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk mengenalkan budaya Minangkabau kepada generasi muda.
Pemerintah Kabupaten Dharmasraya telah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan Batik Tanah Liek, antara lain memberikan pelatihan kepada para pengrajin batik, mempromosikan Batik Tanah Liek di berbagai acara dan pameran, membangun sentra-sentra Batik Tanah Liek dan mendaftarkan Batik Tanah Liek sebagai warisan budaya takbenda. Dengan berbagai upaya tersebut, diharapkan Batik Tanah Liek dapat terus dilestarikan dan menjadi salah satu ikon budaya Kabupaten Dharmasraya. Adapun beberapa tempat di Dharmasraya di mana Anda dapat membeli Batik Tanah Liek yaitu Sentra Batik Tanah Liek Sungai Duo Sitiung, Sentra Batik Tanah Liek Koto Baru, Sentra Batik Tanah Liek Pulau Punjung, dan toko-toko souvenir di Kabupaten Dharmasraya.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau
