Janjang Koto Gadang atau Janjang Saribu

 

Janjang Saribu. Foto: travel.tribunnews.com 


     Dahulu, Janjang Koto Gadang, yang juga dikenal sebagai Janjang Saribu, merupakan jalan setapak yang terbuat dari tanah dan ditopang bambu, yang disebut Janjang Batuang dalam bahasa Minang. Lalu pada masa penjajahan Belanda, Janjang Batuang sudah ada dan digunakan sebagai jalur pintas oleh penduduk Koto Gadang menuju Bukittinggi, atau untuk mengambil pasir di sungai.

     Pada tahun 2012, Janjang Batuang direnovasi menjadi tangga dan jalan bertembok yang kokoh, menyerupai Tembok Besar China. Renovasi ini dilakukan atas prakarsa Walikota Bukittinggi saat itu, Rambu Noegro, dengan tujuan untuk meningkatkan daya tarik wisata Ngarai Sianok, mempermudah akses bagi masyarakat untuk mencapai Koto Gadang dari Bukittinggi, melestarikan budaya dan sejarah lokal.

     Janjang Koto Gadang diresmikan pada tahun 2013 dan sejak saat itu menjadi salah satu objek wisata favorit di Bukittinggi. Dan julukan "Janjang Saribu" diberikan karena banyaknya anak tangga yang terdapat di jalur ini meskipun jumlahnya sebenarnya tidak mencapai seribu. Dan Janjang Koto Gadang memiliki panjang sekitar 780 meter dan lebar sekitar 2 meter. Di sepanjang jalan, terdapat beberapa pos istirahat dan gazebo untuk pengunjung bersantai dan menikmati pemandangan alam yang indah. Dan Janjang Koto Gadang menjadi simbol kegigihan dan gotong royong masyarakat Koto Gadang dalam membangun desanya. Memang, Janjang Koto Gadang atau Janjang Saribu merupakan bukti sejarah dan budaya yang patut dilestarikan. Keindahan alam dan arsitekturnya yang unik menjadikan Janjang Koto Gadang sebagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url