Pasar Ateh Bukittinggi, Salah Satu Ikon Wisata dan Pusat Perdagangan
Pasa Ateh Bukittinggi. Foto: kompas.com
Pasar Ateh ini merupakan salah satu ikon wisata dan pusat perdagangan bersejarah di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Pasar ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Bukittinggi dan sekitarnya selama berabad-abad. Dan kawasan Pasar Ateh ini telah menjadi pusat aktivitas perdagangan sejak zaman dahulu kala, jauh sebelum kedatangan Belanda.
Pada masa itu, kawasan ini dikenal sebagai Los Galuang, yang hanya berupa los-los sederhana. Dan pasar ini menjadi tempat bertemunya para pedagang dari berbagai daerah untuk menjual hasil bumi, kerajinan tangan, dan produk lainnya. Dan pada tahun 1900-an, Belanda mulai membangun Pasar Ateh secara permanen dengan bentuk atap melengkung yang menyerupai galuang, atap rumah adat Minangkabau. Dan pasar ini kemudian diberi nama Loih Galuang.
Belanda juga membangun akses menuju Pasar Ateh dari berbagai sudut, seperti Janjang Ampek Puluah, Janjang Gudang, dan Jalan Pasar Lereng. Pada masa ini, Pasar Ateh menjadi pusat perniagaan yang ramai dan penting bagi Belanda dan masyarakat lokal. Adapun pada masa pasca kemerdekaan Indonesia, Pasar Ateh mengalami beberapa kali renovasi dan pemugaran, terutama setelah mengalami kebakaran pada tahun 1970-an dan 2017.
Pada tahun 1972, Pasar Ateh dibangun kembali secara permanen dan selesai pada tahun 1974. Pemerintah Kota Bukittinggi kemudian menamakannya resmi dengan Pasar Bertingkat Pasar Atas Bukittinggi. Pasar ini diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto. Hingga saat ini, Pasar Ateh tetap menjadi pusat perdagangan dan wisata yang penting bagi Kota Bukittinggi.
Pasar Ateh tidak hanya menjadi tempat berbelanja, tetapi juga menawarkan berbagai pengalaman budaya dan wisata. Pengunjung dapat menemukan berbagai macam produk lokal, seperti kain tenun, songket, souvenir khas Minangkabau, kuliner tradisional, dan lainnya. Dan Pasar Ateh juga menjadi tempat pertunjukan seni dan budaya Minangkabau, seperti tari piring, randai, dan talempong. Dan arsitektur Pasar Ateh yang unik dan bersejarah menjadikannya sebagai salah satu landmark Kota Bukittinggi.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau