Pasar Banto, Awalnya Terminal Pedati pada Masa Hindia Belanda

  

Pasar Banto. Foto: pembangunan.scientia.id


     Pasar Banto memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan perkembangan kota tersebut. Pasar Banto awalnya merupakan terminal pedati yang didirikan pada masa kolonial Belanda. Fungsinya sebagai terminal pedati berlangsung hingga akhir abad ke-19, ketika kereta api mulai beroperasi di Bukittinggi pada tahun 1890-an. Setelah itu, Pasar Banto beralih fungsi menjadi terminal bus.

     Pada tahun 1970-an, Pasar Banto mengalami perubahan besar dengan pembangunan BTC (Banto Trade Center). Dan kehadiran BTC sebagai pasar modern membawa dampak bagi Pasar Banto tradisional, yang mulai ditinggalkan pengunjung. Hal ini menyebabkan penurunan aktivitas perdagangan di Pasar Banto.

     Saat ini, Pasar Banto masih berfungsi sebagai pasar tradisional. Namun, aktivitasnya tidak seramai dulu, dan banyak pedagang yang beralih ke BTC. Meskipun demikian, Pasar Banto tetap menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya Kota Bukittinggi. Dan pasar ini menjadi saksi bisu perkembangan kota dan menjadi tempat bertemunya berbagai elemen masyarakat.

     Pemerintah Kota Bukittinggi telah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan Pasar Banto, antara lain untuk renovasi dan penataan pasar agar lebih nyaman dan menarik bagi pengunjung. Selain itu untuk promosi wisata Pasar Banto sebagai destinasi wisata heritage. Berikutnya dengan pemberdayaan pedagang agar dapat bersaing dengan pedagang di pasar modern.

     Pasar Banto merupakan salah satu situs bersejarah di Kota Bukittinggi yang memiliki nilai penting bagi masyarakat. Upaya pelestarian dan revitalisasi perlu dilakukan agar pasar ini tetap lestari dan menjadi bagian dari identitas Kota Bukittinggi.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url