Pasar Bawah Bukittinggi, Dahulunya Dikenal sebagai Pasar Kurai
Pasar Bawah. Foto: bukittinggiku.com
Pasar Bawah Bukittinggi, dahulunya dikenal sebagai Pasar Kurai, merupakan salah satu pasar tradisional tertua di Kota Bukittinggi. Pasar ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan Kota Bukittinggi sebagai pusat perdagangan di dataran tinggi Minangkabau.
Pasar Kurai telah ada sejak lama, jauh sebelum kedatangan Belanda. Pasar ini merupakan tempat bertemunya para pedagang dari berbagai daerah di Minangkabau untuk menjual hasil panen dan kerajinan tangan mereka. Dan pada tahun 1820-an, Belanda mulai membangun benteng Fort de Kock di Bukittinggi. Kehadiran benteng ini mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut, dan Pasar Kurai pun semakin ramai dikunjungi pedagang dan pembeli.
Pada tahun 1890, pemerintah Hindia Belanda membangun pasar permanen di Bukittinggi yang dikenal dengan nama Pasar Atas. Pasar Atas terletak di atas bukit, sedangkan Pasar Kurai yang berada di bawah bukit kemudian dikenal sebagai Pasar Bawah. Dan Pasar Bawah menjadi pusat perdagangan hasil bumi dan ternak dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Pasar ini juga menjadi tempat bertemunya berbagai budaya dan tradisi dari berbagai daerah di Minangkabau. Dan Pasar Bawah memainkan peran penting dalam perekonomian masyarakat Bukittinggi dan sekitarnya.
Seiring dengan perkembangan zaman, Pasar Bawah mengalami beberapa kali renovasi dan pemugaran. Saat ini, Pasar Bawah telah menjadi salah satu objek wisata budaya yang populer di Bukittinggi. Pengunjung dapat menemukan berbagai macam produk khas Minangkabau di pasar ini, seperti kain songket, rendang, dendeng, dan kopi.
Pasar Bawah merupakan bukti sejarah panjang perdagangan di kota Bukittinggi. Pasar ini menjadi saksi bisu perkembangan ekonomi dan budaya masyarakat Minangkabau selama berabad-abad. Dan Pasar Bawah adalah salah satu aset budaya yang berharga bagi kota Bukittinggi dan Sumatera Barat.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau