AIR NIRA DAN TUKANG SUSU KELILING

    

Penjual air nira keliling. Foto: liputan6.com

     Zaman dulu ada orang yang jual susu murni sapi pakai sepeda dan juga berjalan kaki, tapi belum setenar susu kaleng beruang yang ber-gambar naga itu di hari ini. Dan di hari pacuan kuda, ada juga yang menjual air nira memakai bambu. Entah berapa harga segelas waktu itu, namun saat itu benar-benar nikmat rasanya.

     Sekarang sudah mulai banyak kedai-kedai penjual air nira murni. Bisa dicampur dengan madu atau kuning telur. Rasanya masih senik-mat yang dulu. Dan memori warga kota tentang air nira ini juga masih diingat oleh Rima Dessi bahwa dulu sewaktu ia kecil di depan Bofet Sianok ada orang penjual air nira memakai bambu panjang yang disan-dangnya di bahunya. Kalau ada yang membeli maka dituangkannya ke dalam gelas-gelas kecil. Sedangkan kalau susu sapi yang dari Padang Mangateh sudah memakai mobil ia mengantarkannya ke rumah saat itu, katanya. Sedangkan Mak Win mengabarkan bahwa harga air nira R.25 segelas di tahun 1980-an dan nama buluh tempat nira itu adalah tangkiak niro, katanya.

     Begitu pula dengan Thia Ima Muthia bahwa ia sekeluarga dulu ber-langganan susu murni dari Padang Mangateh sampai ia pergi meran-tau. Hari ini sesekali masih minum susu murni sekalian untuk cuci mu-ka juga, katanya. Adapun Oktavia Asril mengatakan bahwa kalau susu murni keliling telah menjadi langganan keluarganya di waktu kecil. Orangnya memakai motor dan di belakangnya dua tabung besar di kiri dan kanan. Nanti diisikan ke botol-botol setiap pagi dan sudah ada 2 botol di depan pintu. Lalu di masak dan dikasih gula dan diminum ha-ngat-hangat. Peraturan mama tidak boleh pergi sekolah kalau belun minum susu, katanya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url