Sumur atau Luak Zaman Dulu untuk Mandi

 

1.     

Sumur atau luak zaman dulu untuk mandi. Foto: kampungciputat.wordpress.com

     Pada zaman dulu, umumnya orang mandi ke luak. Biasanya luak ter-letak di tepi tebing dan berbentuk sumur serta airnya jarang pernah ke-ring. Dan lantainya biasanya  dari kasih papan dan agak dimiringkan ke bawah. Air luak itu bisa dijangkau dengan gayung. Terkadang air bekas mandi ada juga yang masuk kembali ke dalam luak. Dan di bawah tem-pat mandi itu biasanya ada kolam ikan. Terkadang ketika musim hujan, air kolam dan air luak terlihat hampir sama datar.

     Di kolam itu biasanya juga ada jamban. Jadi ketika pagi atau sore ha-ri, kegiatan mandi di luak atau pergi ke jamban di kolam itu, suatu hal yang biasa kalau antri. Dan memang begitulah di zaman dulu. Selain ke luak ada juga yang mandi ke sungai ketika musim kemarau. Karena di musim itu luak dan kolam sama-sama kering. Maka semua aktivitas berada di sungai. Tidak heran jika di poster-poster di sekolah SD zaman dulu diilustrasikan ada orang yang di jamban, orang yang sikat gigi, mandi, mencuci piring, mencuci baju di sungai atau di kolam yang sa-ma. Poster-poster itu untuk mendidik anak-anak sekolah agar tidak mencontoh perbuatan itu karena itu cara hidup yang tidak sehat.

     Ada sebuah pengalaman dari Arlen Ara Guci pada waktu dulu sela-lu mandi di pancuran di bawah bukit.  Dan di zaman kini, orang sudah banyak mandi di dalam rumah. Mungkin dari sumur atau PDAM, se-hingga pancuran dan luak sudah banyak ditinggalkan. Sekarang sudah jarang orang mandi di luak atau pancuran karena yang namanya luak, letaknya jauh dari kampung. Orang mandi di luak katika urusan kerja ke sawah sudah selesai lalu mandi atau bersih-bersih di luak. Beberapa luak, akhirnya lenyap sendiri karena pendangkalan dan tertutupnya mata air karena sudah tidak lagi dipakai, katanya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url