ASAL USUL AWAL NAMA DAERAH

 

1Bendi di halaman rumah gadang. Foto: Ijot Goblin

     Biasanya orang-orang zaman dulu memberikan nama daerah berupa nama pohon. Seperti nama pohon kubang, pohon nunang, pohon tarok, pohon cubadak, pohon jambak, pohon lansek, sariak, tolang, pulai, ipuh, mansiro, andaleh, kalumpang, sopuak, ampalu, sikaduduk, po-lam, basuang, nibuang, ara, pitapiang, alai, api-api, dll. Selain itu ada juga dengan nama tanjung seperti Tanjung Tibarau, Tanjung Alam, Tanjung Durian, Tanjung Parigi, dll. Ada juga dengan nama lubuk seperti Lubuk Alung, Lubuk Basung, Lubuk Batingkok, dll. Serta ada juga dengan nama padang seperti Padang Alai, Padang Datar, Padang Tangah, Padang Baluka, Padang Leba, Padang Tinggi, dll.

     Ada suatu hal, pohon-pohon seperti pohon maro, pohon nunang, pohon kubang dan pohon lainnya semakin susah ditemukan. Padahal ini adalah tanaman asli daerah. Sebagaimana negara melindungi he-wan-hewan yang terancam punah, seharusnya ada perlunya juga me-lindungi pohon-pohon asli daerah yang juga terancam punah.

     Okto Muharman mengabarkan bahwa pohon sopuak lebih dikenal dalam bahasa lama sebagai pauah janggi. Sedangkan kalumpang adalah pohon rimba dengan buah merah. Ada lagi mansiro yaitu pohon yang rimbun dengan buah kecil-kecil. Dahulu tempat berteduh anak-anak siak dan masyarakat. Sedangkan pohon sopuak tak kelihatan lagi. Namun pohon kalumpang dan mansiro masih ada. “Dan bisa jadi ide ini untuk melestarikan pohon langka ini dibuatkan hutan cagar alam di Payakumbuh,” kata Aldo menyarankan.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url