Bendi dalam Ingatan Warga Payakumbuh
|
Bendi di Simpang Bofet Sianok. Foto: Feni Efendi
|
Bendi ini masih bertahan dan menjadi moda transportasi utama sete-lah bus-bus mulai meramaikan kota ini. Dan tentu, pada tahun 1980-an, angkutan sago juga telah menjadi moda transportasi utama di kota ini sehingga keberadaan bendi semakin terpinggirkan. Keberadaan bendi semakin terkikis setelah dikeluarkannya perda-perda baru yang mem-buat kebebasan bendi semakin terancam. Kini bendi hampir saja menjadi kenangan warga kota ketika kota-kota lain berupaya menyelamatkannya menjadi bagian dari moda pariwisata. Tentu butuh subsidi bagi bendi-bendi agar tetap eksis sehingga benar-benar menjadi bagian pariwisata kota ini.
Berikut ini jurusan bendi masa dulu yaitu bendi jurusan Koto Nan IV yaitu di sebelah Toko Bata lama atau RM Asia Baru serta dekat SPBU (simpang Yamaha saat ini). Sedangkan bendi jurusan Napar atau Lam-pasi berlokasi di sebelah Candano atau Fast Mart sekarang. Begitupun dengan jurusan Koto Nan Gadang yaitu di Simpang Empat Petak Sago atau Jalan Arisun (Pasar Penampuang) dan di gang sebelah STM Tamsis depan Ramayana. Adapun jurusan Labuah Basilang, Sicincin, Air Tabit, Tiakar, dan Limbukan di sebelah Limbago dan Simpang Karia, kata Refidon Putra.
Beberapa memori warga kota tentang bendi ini masih teringat jelas. Seperti Joni Hendri yang menjadikan bendi sebagai transportasi saat pulang sekolah dari SMP Kaniang Bukik ke Simpang Benteng di tahun 1987-1990. Saat itu ongkos Rp.100. Sedangkan Adhi Adrian mengingat kalau jurusan Koto Nan Ampek ada nama kusirnya Pak Acat dan Pak Curiang (keduanya sudah meninggal). Nama kusir yang lain seperti Pak Kele, Pak Sabar, Pak Sawia, tapi yang masih eksis sekarang adalah Pak Imuh yang tinggal di Goduang Bulakan Balai Kandi.
Begitupun dengan Elvina Dewi Dewi Yopl mengabarkan bahwa se-tiap hari Minggu susah sekali menunggu bendi kosong. Penuh terus. Sekitar tahun 1990 sampai 2000-an. Waktu itu Pasar Payakumbuh asri dan nyaman kalau kita pergi belanja. Kalau hari Minggu ramai sekali. Se-dangkan Thia Ima Muthia juga mengingat ketika dulu ke pasar naik bendi dari Simpang Batirai Parit Rantang ke Pasar Ibuah. Pulang naik bendi lagi duduk di depan tapi dia yang bawa. Nama kusirnya saat itu Mak Curiang, kadang yang duduk di belakang ketakutan dan kadang pada ketawa. Seru pada zaman dulu. Sampai-sampai ia dipanggil sama tetangga Mak Curiang juga, kenangnya.
Adapun Bentri Bermawi yang sebagai anak kusir bendi mengatakan bahwa ayahnya selain sebagai kusir bendi juga pandai menjinakkan ku-da baru yang masih belajar menjadi kuda bendi. Ada kuda baru yang agak mada ketika dikenakan palano untuk menarik bendi, kuda itu akan langsung berlari kencang. Dan terkadang ada pula kuda tak mau berlari. Selain itu ayahnya juga pandai memperbaiki lonceng bendi. Ayahnya bernama Pak Mawi dari Bukit Sitabuah. Kalau ia pulang kampung ke Sicincin Pakan Salasa, ia sengaja men-carter bendi untuk berjalan-jalan dengan anak-anaknya sehingga anak-anaknya tahu tentang asal-usul kakeknya yang menjadi kusir bendi.
Adapula pengalaman Shebungshu naik bendi ketika pulang sekolah padahal sekolahnya dekat dari rumah yaitu di Parit Rantang. Terkadang ber-cater bendi itu di hari Minggu untuk pergi raun-raun ke Ngalau pulang balik dan bahkan sampai ke Harau juga, katanya. Sedangkan Herman Leeroth masih mengingat bahwa nama-nama kusir bendi jurusan Tiakar seperti Mak Momek, Mak Paga, Sii Ajo, Mak Buje, dll. Di sana ada los daging di depan ruko H. Agustina yang suaminyo Ong Lun Tek, kepala HBT (Himpunan Bersatu Teguh), orang tua dari Ong Peng An atau Syofian Anwar atau Da An yang punya mesin heler di Tiakar dan rumahnya di Padang Leba yang kini akan dibangun perumnas. Di sebelahnya ado Toko Keke, dan Toko Mas Asia, kata Herman men-jelaskan.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau