Jenjang Hizra Payakumbuh Terlihat di Kejauhan

1.Jenjang Hizra terlihat di kejauhan. Foto: Feni Efendi

     Di dekat jenjang samping Hizra (arah Jalan Ahmad Yani) ini dulu ada toko kaset. Kalau tidak salah nama toko itu dulu adalah Citra Musik. Sedangkan toko di lantai dua yang sudah tutup saat ini dulunya adalah tempat main game dingdong dan setelahnya diganti dengan warnet pada awal tahun 2000-an. Mungkin sejak Jenjang Frustasi yang dibelakang Hizra itu dibongkar, jenjang samping, dan jenjang depan Hizra ini masih menjadi tempat nongkrong bagi anak-anak sekolah. Apalagi bagi mereka yang cabut. Dan tidak jarang lokasi ini sebagai tempat janji bertemu teman-temannya beda sekolah. Baik laki-laki maupun perempuan.

     Di atas dekat jenjang ini, mereka yang nongkrong bisa mendengarkan lagu yang diputar di bawah jenjang yang menjadi toko musik itu. Terka-dang sedang enak-enak mendengar lagu, ternyata dimatikan karena ada pembeli yang mencoba kaset lain yang akan dibelinya. Dan memang, ka-set pita saat itu merupakan barang berharga bagi anak muda. Terkadang untuk membeli sebuah kaset idaman terpaksa harus menghemat uang belanja.

     Asyiknya di atas jenjang ini, anak-anak muda saat itu bisa menyak-sikan penjual obat yang berlokasi di kanopi Martabak Mesir Wan seka-rang. Penjual obat itu mengembangkan lapaknya dengan barang berupa minyak yang memiliki seribu kasiat. Katanya minyak itu dari akar tana-man pasak bumi yang tumbuh di pedalaman Kalimantan. Penyakit kulit, asam urat, terkilir, dan lain-lain, bisa diobati dengan minyak itu. Maka ramailah orang-orang menyaksikan bualan tukang obat itu dan tidak sedikit yang tergiur membelinya.

     Hal yang paling unik dari penjual obat itu adalah ia memiliki sebuah tasbih dan tidak lama lagi akan berubah menjadi ular. Bayangkan saja dari pagi menunggu tasbih menjadi ular dan ketika adzan zuhur berku-mandang maka lapak itu dibubarkan. "Nanti kita sambung lagi setelah shalat," kata penjual obat itu. Dan tasbih yang ditunggu-tunggu dari pagi akan menjadi ular tidak juga terjadi. "Hancur berkeping-keping pe-rasaan Hayati ini, Bang!"

     Selain itu, anak-anak zaman dulu mengenang di bawah jenjang ini ada toko busana. Doni Dwinanda masih mengingat bahwa anak-anak muda Payakumbuh yang suka bergaya di tahun 1980-an, di situ ada Toko Budi Mulya, tempat menjual segala kebutuhan penunjang penampilan. Mulai dari celana levis asli dan merk-merk lain, kemeja, dan kaos yang up to date, parfum-parfum kaleng, gesper, dan pernak-pernik lainnya. Kalau malam hari raya bisa buka sampai subuh, kenangnya.

     Sedangkan Yani Pinta juga masih mengingat kalau di hari Minggu ba-nyak yang jualan obat. Sekarang mereka pada di mana, ya?” tanyanya. Lain pula dengan Elya Ismael yang suka membeli kaset yang direkam ulang dengan memberikan nama-nama judul lagu favorit kepada pen-jual kaset itu.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url