CAS AKI UNTUK MENYALAKAN RADIO

 

1.  Cas aki zaman dulu. Foto: motorplus-online.com

     Sebelum populernya aki kering pada masa sekarang, dulu aki basah itu sering pula dicas. Apalagi sebelum listrik masuk. Maka mengecas aki di masa itu sudah seperti kebutuhan pokok saja, setidaknya sekali seminggu. Aki itu di zaman dulu untuk menghidupkan radio atau tape. Ada juga untuk TV tetapi akinya sedikit lebih besar. Terkadang ada ju-ga untuk menghidupkan listrik di rumah, tetapi itu hanya orang-orang tertentu saja di masa itu. Orang berjouis kalau istilah zaman sekarang.

     Tempat mengecas aki di zaman dulu ada di Petak Tujuh sebelum gerbang Unand di Jalan Rasuna Said itu. Di tahun 1997 masih bisa rasanya mengecas aki di situ. Entah berapa pula harga jasa cas aki di masa itu. Selain di Petak Tujuh, di Pakan Salasa juga ada yaitu di se-belah Masjid Alfalah dan sampai kini masih beroperasi oleh Dt. Malano, kata Budy Dt. Patiah.

    Selain itu, di Simpang Balai Jariang Air Tabit juga ada. Tek Baiti nama pemiliknya. Dulu sewaktu kecil masih Rp.200 upah jasa mengecasnya, kata Seprianto. Sedangkan di Banio di Tanjuang Gadang dan di Sim-pang Piliang dulu juga ada, kata Yuliansis Oyon Rasyid.

     Safri Adj Adj juga mengingat tempat mengecas aki ini juga ada di Tanah Mati dan Napar. Begitupun dengan Aisyah bahwa di Katapiang di sebelah Sate Mak Bahar juga ada dulunya. Dan Marthia Susma juga memiliki kenangan mengantarkan aki memakai sepeda ke Balai Gadang dekat Kantor KAN sekarang. Untuk bisa nonton televisi maka sekali seminggu rutin ke sana, katanya. 

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url