LAMPU STRONGKENG

 

Lampu strongkeng zaman dulu. Foto: masakecildulu.wordpress.com

     Sebelum tahun 1990-an, lampu strongkeng ini merupakan lampu wa-jib di setiap rumah. Masih jarang rumah-rumah yang sudah masuk lis-trik di saat itu kecuali rumah-rumah yang di tepi jalan besar. Maka anak-anak pun punya pekerjaan tetap hampir setiap hari yaitu membeli minyak tanah memakai jerigen.

     Sebelum magrib datang, lampu strongkeng ini dihidupkan di pintu rumah. Anak-anak selalu menontonnya meski sudah tiap hari melihat cara menghidupkan lampu strongkeng itu. Lampu itu memakai kaos lampu. Dihidupkan memakai spritus. Dan digantungkan di tengah ru-mah. Bersorak-soraklah anak-anak menyaksikan itu.

     Setelah lampu strongkeng digantungkan maka anak-anak shalat dan mengaji. Terkadang makan malam terlebih dahulu. Setelahnya mengaji lalu membuat PR. Dan ketika agak malam, sekitar pukul sembilan ma-lam, maka lampu strongkeng diturunkan dan diganti dengan lampu dinding. Maka lampu dinding itulah menemani anak-anak tidur.

     Terkadang di hari-hari tertentu, lampu strongkeng ini dipakai untuk menyuluh di malam hari. Bisa untuk menangkap ikan atau belut. Pada masa itu ikan-ikan masih banyak. Terkadang dalam satu malam bisa mendapatkan ikan satu ember. Pada masa itu belum banyak orang me-nggunakan racun untuk padi di sawah sehingga ikan-ikan masih ter-jaga dari pestisida.

     Warga kota pun masih mengingat kenangan tentang lampu strong-keng ini seperti Novra Hadi. Ia mengatakan bahwa itu adalah lampu kenangan. Lampu itu eksis karena setelah 28 tahun Orde Baru berkuasa listrik baru masuk ke pedesaan Sumbar. Timeline yang tidak logis ka-rena seharusnya listrik sudah bisa masuk ke pedesaan di masa 10 tahun Orde Baru berkuasa. Tapi masa itulah yang membuat lampu ini eksis dan digunakan puluhan tahun di Sumbar, katanya.

     Sedangkan Des Neli masih mengingat bahwa tugasnya menghidup-kan lampu strongkeng sebelum magrib. Terkadang karena salah me-mompa maka minyak sudah naik ke atas maka apinya pun membesar lalu diputar anginnya untuk mengecilkan apinya. Setelah itu pergi mengaji  memakai suluh sehingga hidung menjadi hitam karena asap, katanya. Adapun Adri Sandra mengatakan bahwa ia sampai tahun 2000 masih memakai lampu strongkeng itu. Ia juga sering pergi menyuluh ikan  dan belut memakai strongkeng. Dan lampu itu adalah kebutuhan pokok bagi keluarganya sebab setiap malam orang tuanya membuat bika dan sarabi untuk dijual di pasar-pasar pekan dengan gerobak. Sekarang kalau melihat lampu strongkeng ini maka terkenang kedua orang tua, katanya.

     Adapun pengalaman Hazmi Nahdatul yaitu lampu strongkeng ini dulunya digunakan untuk pergi ke sawah ketika padi baru selesai di-panen. Padi itu disusun berbentuk lingkaran dan di tengahnya bisa untuk tidur kalau belum selesai merontok padi. Penerangannya mema-kai lampu strongkeng, katanya. Sedangkan Rima Dessi yang tinggal di Pasar Payakumbuh mengatakan bahwa tahun 1970-an, lampu strong-keng itu yang ia lihat dipakai bibinya tiap sore menjelang magrib. Dan pada tahun 1980-an, di rumahnya sudah memakai listrik untuk pene-rangan rumah.

     Pengalaman unik juga didapatkan oleh Dedet Kurniawan tentang lampu strongkeng ini sewaktu ia SD. Lampu strongkeng itu ia gunakan  untuk mancari jengkrik atau sijontu untuk dijual sebagai makanan burung murai batu. Banyak pada masa itu orang mancari jengkrik itu.  Ada 30 lampu strongkeng tiap malam di Koto Tangah, Lubuk Bating-kok. Cara mencarinya dengan menginjak-injak rumput di sawah kering. Terkadang karena cahaya lampu strongkeng, jengkrik itu akan keluar sendiri dari  sarangnya atau di bawah rumput sawah. Dan ia waktu SD dulu mancari uang balanja sekolah dengan pergi mancari jengkrik itu. Ada yang menapatkan 1000 ekor jengkrik dalam waktu semalam. Har-ganya saat itu sekitar R.25—Rp.35 per ekor dibeli toke sekitar tahun 1997/1998.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url