Lima Puluh Kota Penghasil Kopi Terbaik

Foto: FB Serikat Tani Indonesia
Kabupaten Lima Puluh Kota merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Sumatera Barat. Kopi yang dihasilkan di daerah ini adalah kopi robusta ataupun arabika. Beberapa kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota yang terkenal sebagai penghasil kopi di antaranya Kecamatan Gunung Omeh, Kecamatan Payakumbuh, Kecamatan Harau, Kecamatan Situjuah Limo Nagori, Kecamatan Luak, Kecamatan Halaban.
Adapun Situjuah merupakan daerah penghasil kopi paling utama sejak dari zaman Hindia Belanda. Tanaman kopi di Situjuah, Kabupaten Lima Puluh Kota, memiliki sejarah panjang dan kaya. Kopi pertama kali ditanam di daerah ini pada awal abad ke-18 dan semakin meluas di zaman Hindia Belanda. Pada saat itu, kopi merupakan komoditas yang sangat diminati di pasar internasional, dan Belanda ingin memanfaatkan tanah yang subur dan iklim yang ideal di Situjuah untuk menanam kopi.
Awalnya, kopi ditanam oleh para petani lokal di bawah pengawasan Belanda. Namun, seiring waktu, para petani lokal mulai menanam kopi sendiri dan menjualnya langsung ke Pantai Timur melalui jalur sungai yang luput dari pengawasan Belanda. Hal ini menyebabkan peningkatan produksi kopi di Situjuah dan menjadikan daerah ini sebagai salah satu sentra kopi utama di Sumatera Barat.
Pada masa penjajahan Jepang, kopi di Situjuah mengalami masa kemunduran. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya tenaga kerja dan infrastruktur yang buruk. Namun, setelah kemerdekaan Indonesia, kopi di Situjuah kembali bangkit dan menjadi salah satu komoditas penting bagi perekonomian daerah. Dan saat ini, kopi Situjuah terkenal dengan cita rasa yang khas dan berkualitas tinggi. Adapun beberapa poin penting dalam sejarah kopi di Situjuah dimulai sejak awal abad ke-19 di mana kopi pertama kali ditanam di Situjuah oleh Belanda. Sedangkan masa penjajahan Jepang, kopi di Situjuah mengalami masa kemunduran dan setelah kemerdekaan Indonesia, kopi di Situjuah kembali bangkit. Saat ini, kopi Situjuah terkenal dengan cita rasa yang khas dan berkualitas tinggi.
Selain di Situjuah, kopi juga banyak ditanam di masa Hindia Belanda di Hulu Aie, Nagari Harau. Daerah lain juga ada kopi ditanam di Nagari Sariak Laweh di atas perbukitan yang berbatasan dengan Kabupaten Agam. Adapun kopi robusta yang dihasilkan di Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki cita rasa yang khas, yaitu pahit dan sedikit asam. Kopi ini banyak diminati oleh para pecinta kopi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Salah satu varietas kopi robusta yang terkenal di Kabupaten Lima Puluh Kota adalah kopi Taratak. Kopi ini berasal dari Nagari Taratak, Kecamatan Guguak. Kopi Taratak memiliki aroma yang harum dan rasa yang kuat.
Selain kopi robusta, di Kabupaten Lima Puluh Kota juga terdapat kopi arabika. Namun, jumlahnya tidak sebanyak kopi robusta. Kopi arabika yang dihasilkan di daerah ini mostlya ditanam di daerah dataran tinggi. Dan kopi arabika yang dihasilkan di Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki cita rasa yang khas, yaitu asam dan sedikit manis. Kopi ini banyak diminati oleh para pecinta kopi yang menyukai kopi dengan rasa yang ringan.
Adapun faktor yang menyebabkan Kabupaten Lima Puluh Kota menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Sumatera Barat yaitu kondisi tanah yang cocok untuk tanaman kopi. Tanah di Kabupaten Lima Puluh Kota subur dan memiliki tingkat keasaman yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kopi. Selain itu juga didukung oleh iklim yang mendukung. Di mana iklim di Kabupaten Lima Puluh Kota cukup hangat dan lembab sehingga cocok untuk pertumbuhan tanaman kopi. Adapun curah hujan di Kabupaten Lima Puluh Kota cukup tinggi sehingga kebutuhan air untuk tanaman kopi terpenuhi. Adanya tradisi menanam kopi di Kabupaten Lima Puluh Kota sudah ada sejak lama. Hal ini menyebabkan banyak petani di daerah ini yang memiliki pengalaman dalam menanam kopi.
Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota terus berupaya untuk meningkatkan produksi kopi di daerah ini. Beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah memberikan bantuan bibit kopi kepada petani. Selain itu juga memberikan pelatihan kepada petani tentang cara menanam kopi yang baik dan benar. Selain itu, membangun infrastruktur jalan dan jembatan di daerah penghasil kopi. Dan juga mempromosikan kopi Lima Puluh Kota di berbagai pameran dan festival kopi.
Adapun potensi ekonomi untuk produksi kopi di Kabupaten Lima Puluh Kota sangat besar. Hal ini didukung oleh luas areal kopi di Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2021, dengan produksi mencapai 7.459 ton. Sedangkan kopi robusta mendominasi produksi kopi di daerah ini dengan produksi 6.207 ton. Adapun Kecamatan Guguak dan Bukit Barisan merupakan sentra kopi robusta utama di Kabupaten Lima Puluh Kota. Sedangkan permintaan kopi robusta di Indonesia dan dunia terus meningkat. Hal ini membuka peluang pasar yang besar bagi kopi robusta Lima Puluh Kota. Kopi ini dapat dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, maupun diekspor ke luar negeri.
Dukungan pemerintah sangat dibutuhkan untuk pengembangan produksi kopi, seperti pemberian bantuan bibit kopi kepada petani, pelatihan dan penyuluhan tentang budidaya kopi yang baik, dan pembangunan infrastruktur jalan dan irigasi untuk mendukung perkebunan kopi. Sedangkan akses yang mudah ke pasar, baik lokal maupun internasional. Hal ini memudahkan petani kopi untuk memasarkan produk mereka ke pembeli.
Adapun tantangan produktivitas kopi di Kabupaten Lima Puluh Kota masih tergolong rendah dibandingkan dengan daerah lain. Petani kopi masih menggunakan teknik budidaya tradisional yang belum optimal serta kurangnya akses petani terhadap modal dan teknologi. Hal ini membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas kopi melalui penerapan teknik budidaya yang baik serta meningkatkan kualitas kopi melalui pengolahan pasca panen yang baik. Hal itu juga bisa memperkuat akses pasar kopi robusta Lima Puluh Kota, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau