MENJADI ANAK JOJO
|
Anak jojo zaman dulu. Foto: detik.com |
Anak-anak itu keliling kampung membawakan jualannya dengan ca-ra dijujung. Khas pula cara lagunya untuk memberi tahu pembeli. Seka-rang anak jojo seperti itu sudah langka. Karena nyaris di setiap simpang sudah ada yang jualan gorengan pada hari ini. Dan juga, aneka ma-kanan dan minuman sudah banyak jenisnya. Tentu dengan tempat nongkrongnya yang membuat pengunjung nyaman.
Wiwis Zainibar masih mengingat bahwa ia pernah menjadi anak jojo. Sewaktu di Kaniang Bukit ia berjualan bakwan dan godok pisang milik Tek Damus. Namun kalau sudah musim pacu jawi di Payolinyam maka ia berjojo tebu cucuk dengan tangkai bambu mekar model bunga. Se-dangkan ketika ada perlombaan layang-layang di sawah setelah panen, di situ orang menjual miehun puak kuwah, katanya lagi.
Sedangkan Yuliani Eka Putri pernah pula jualan es ketika SD. Es itu milik tetangga dan memakai termos dengan harga Rp.100. Ia menda-patkan untung Rp.20 per buah. Ia berjualan ketika jam istirahat dan se-telah pulang sekolah. Begitu pula dengan Yurdalita Chaniago yang per-nah pula menjadi anak jojo menjual bakwan dan pindik di SMA Negeri 1 Payakumbuh. Jualan itu dibuat oleh ibunya.
Hasby Al Anshory juga masih ingat ia menjadi anak jojo. Ia menjual satu panci donat setiap pagi di Koto Nan Gadang untuk uang belanja dan membeli buku tulis sekolah. Begitu pula dengan Rifatni yang men-jual kerupuk lado seusia SD. Plastik pembungkus kerupuk lado itu pan-jangnya sambung menyambung sampai 3 meter, katanya.
Pengalaman unik ada pula oleh Diandra Novita Nurdin dengan anak jojo yaitu ketika tahun 1990-an, ulang tahun SMA PGRI, saat itu ada bermacam-macam perlombaan seni dan olah raga. Sekolahnya di SMA 3 Payakumbuh (sekarang SMA 2 Payakumbuh) masuk final sepak bola berhadapan dengan tuan rumah SMA PGRI.
Ia dan teman-teman lainnya yang menjadi suporter kesebelasan se-kolahnya, memanggil anak jojo yang sedang menjujung kerupuk jariang sebaskom besar. Mereka memboronglah kerupuk jariang itu dan setelah baskomnya kosong maka dijadikanlah untuk penabuh gendang dan bersorak oleh suporter-nya. Begitu pula dengan Welly Adios pengala-mannya dengan anak jojo di hall lapangan basket. Setelah jualan anak jojo itu habis maka baskom plastik itu mereka dijadikan juga sebagai alat gendang untuk men-suport tim yang mereka suka.
Adapun dengan Yusrizal Efendi pernah memiliki kenangan sebagai anak jojo dari SD sampai MTs bajojo keliling kampung menjual limping ubi, pergedel ubi, sala lauak. Karena kondisi waktu itu, happy saja, tak ada gengsi. Kok anak milenial kini, entahlah, katanya. Dan Columba Livia ada pula mengingat tentang tukang jojo yang paling legen. Nama-nya Tek Upiak. Entah di mana rumahnya. Dari jauh suara khasnya su-dah terdengar. Mungkin belasan tahun atau puluhan tahun ia bajojo. Dagangannya dijujung memakai songgan besar, katanya.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau