MENCARI SIPUT SAWAH
1. Febrianti membudidayakan siput sawah di Talawi. Foto: impiannews.com
Sebelum dimasak, siput itu harus didiamkan dulu sehari semalam untuk mengeluarkan lumpur-lumpur di dalam tubuh siput itu. Dan un-tuk bagian tubuh luarnya, siput-siput itu dibersihkan dengan daun sikaduduk. Serta jangan lupa memotong ekornya. Biasanya mengguna-kan tang lebih praktis untuk memotong ekor siput itu.
Siput ini biasanya digulai dengan menggunakan daun surian. Pakai daun keladi kemumu bisa juga. Atau daun pucuk ubi yang ditambah cabe rawit agak sedikit. Dan mungkin menu ini sudah jarang didapat-kan oleh anak-anak milenial zaman sekarang. Berbagai pengalaman tentang kesukaan siput sawah ini juga dialami oleh Thia Ima Muthia bahwa ia rela tasnya hancur gara-gara membawa gulai siput ke rantau. Ia membawa gulai siput itu dalam keadaan beku, lalu di pesawat pun ia baluti tasnya dengan jaket agar air dari uap siput beku yang di dalam tas tidak merembes ke mana-mana. Setiap pulang kampung begitu per-juangannya karena anak-anaknya semua sangat menyukai gulai siput. Gulai siput sangat mantap, kata Thia.
Begitupun dengan Fitriani bahwa di rantau, siputnya kecil-kecil. Ti-dak ada isinya. Terkadang dibeli juga karena sangat ingin tapi tidak puas memakannya, kenangnya. Sedangkan Paul Bahgeur, pernah men-cari siput dari pagi sampai siang untuk dijual ke Pasar Ibuh. Karena pada masa itu, ada orang yang menampung untuk membelinya. Cara menjualnya dengan bercupak atau berkaleng dengan memakai kaleng bekas sarden. Pengalaman yang sama juga dialami oleh Dalzuarni Arni yang setiap hari mancari siput untuk dijual. Semasa itu secupak seharga Rp.50. Uangnya untuk belanja sekolah dan untuk membeli buku tulis serta perlengkapan sekolah, katanya.
Sedangkan Adisti Vicesta sewaktu kecil dulu ada anak-anak yang sering men-jojo-kan ke rumah-rumah dan neneknya sering membeli siput dari anak jojo itu. Katanya gulai siput itu dicampur pucuk ubi dan daun surian. Dan sejak tamat SMP sampai sekarang belum ada lagi mencoba makan gulai siput, katanya.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau