NOSTALGIA TENTANG SIMPANG BOFET SIANOK DI PAYAKUMBUH

 

1.     Simpang Sianok, bekas terminal sebelum tahun 1980-an. Foto: Feni Efendi

      Di Simpang Bofet Sianok ini terlihat bangunan Toko Penang Elek-tronik yang berdiri sejak tahun 1917. Jelas sekali model Eropanya gedung ini. Dan di seberang jalan itu ada Toko Wan Susila yang juga telah men-jadi memori warga kota ini sejak dahulu. Iklan toko itu sering diputar di radio-radio pada tahun 1990-an.Dan di sebelahnya ada cuci cetak foto Sakura. Dan memang, roll film tak pernah habis-habisnya di pesan di toko ini pada zaman dulu. Termasuk tempat berfoto ketika acara pawai sele-sai, khatam quran, fashion show, hari raya, maka dibela-belain ke studio ini untuk merekam momen-momen itu.

     Masih di sekitar simpang ini dulu ada Bioskop Rex dan Bioskop Kencana. Rental VCD Ratu juga ada di sini. Dan memang, kawasan Sim-pang Bofet Sianok ini telah menjadi kenangan tersendiri bagi warga kota. Dulu tahun 1990-an, ada yang menjual susu dadieh di sini. Dan mengopi di bofet ini telah menjadi buah tutur kenangan bagi orang-orang zaman dulu. Selain itu, Taman Baca Warga juga ada di sini. Dulu terminal bus juga ada di sini dan lalu dipindahkan ke Petak Sago sekarang. Dan ketika Koperasi Sago didirikan maka terminal bus dipindahkan ke Terminal Pasa Kabau Labuh Baru dan Terminal Pakan Sinayan Koto Nan Ompek tahun 1980. "Di samping Bofet Sianok ini kami tinggal di masa kecil dulu yang kini sudah menjadi Super Market Tiffani dan sering melihat orang-orang Ludai bermalam di Pasar," kata Rima Desi mengingat masa kecil-nya pernah tinggal di gedung ini.

     Pada masa lokasi terminal di Simpang Bofet Sianok itu ada beberapa nama bus yang masih di dalam memori kenangan warga di antaranya Bus Gagak Hitam, Cahaya Kampar, Kampar Jaya, Merah Sari, dll. "Saya acap naik bus ini dari Pekanbaru ke Payakumbuh pulang pergi ketika libur Sekolah Dasar. Ketika sudah pindah sekolah ke Payakumbuh, Sim-pang Sianok ini sering macet karena pasarnya tumpah ke jalan. Ketika itu saya sering ditugaskan pembina Pramuka SAKA (Satuan Karya) Bha-yangkara Polres 50/Payakumbuh (sekarang Polres Payakumbuh), Lettu Pol. Hamid (ayahnya Efi Hamid) untuk mengatur lalu lintas dengan se-ragam BKLL (Badan Keamanan Lalu Lintas). Ketika itu saya masih kelas 3 di SMP 1 Payakumbuh tahun 1985," kata Nandik Sufaryono yang masih mengingat dengan jelas memori masa remajanya.

     Khusus tentang Bofet Sianok ini, di sinilah tempat berkumpulnya a-nak dendang dan tukang saluang pada waktu ba'da magrib dan isya se-belum dijemput oleh si pengundang yang punya acara dari berbagai lokasi di wilayah luak yang tiga ini. Tapi sekarang tidak seperti dulu lagi, kata Widiat Arta La. Bofet Sianok ini salah satu ikon perantau dari Kam-pung Sianok Anam Suku, Kec. Ampek Koto Agam. Dulu di Bofet ini tem-pat pertemuan antara orang dari Kampung Sianok Anam Suku dengan keluarganya yang merantau ke Payakumbuh, kata Yusra Maiza. Bahkan dulunya ada papan pengumuman kongsi IKAS (Ikatan Kekeluargaan Anam Suku). Di sinilah perantau IKAS mendapat berita siapa yang telah wafat dan berita lainnya, kata Irfan menambahkan.

     Begitulah memori warga kota tentang Simpang Bofet Sianok. Dan Linia Altasya masih mengingat masa kecilnya kalau pergi ke pasar ber-sama ibunya jalan kaki dari Pasar Ateh ke Pasar Ibuh dan begitu seba-liknya. Tiba di Pasar Ibuh dibelikan lontong pical di deretan yang men-jual ikan kering sekarang. Dan sewaktu kembali ke Pasar Ateh maka singgah sebentar ke Bakso Trisno atau dibungkus untuk dibawa pulang.   Sedangkan Doni Dwinanda masih mengingat ada plang merk papan na-ma Kursus Modeste Wijaya di atas pintu di samping Bofet Sianok. Berde-katan dan terpisah jalan dengan bangunan milik Toko Mekar, salah satu taipan Payakumbuh saat itu. Deretan Sianok ke belakangnya ada RM Delima yang cukup legen juga punya Ncek Wat serta ada Losmen Harau tempat rombongan pedagang atau pembeli dari daerah-daerah Pangka-lan atau Kapur IX menginap di akhir pekan. Karena hari pasar Payakum-buh saat itu hari Minggu. Dan mereka yang berniaga dari daerah-daerah tersebut tidak bisa pulang balik di hari yang sama karena infrastrukstur jalan masih belum memadai.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url