TOKO BUKU DAN KIOS-KIOS KORAN DI PAYAKUMBUH
Tugu Adipura. Foto: Feni Efendi
Poster-poster zaman itu ada Boyzone, Westlife, F4, Nirvana, Metalica, Guns Roses, Iron Maiden, Sepultura, Boomerang, Zamrud. Kalau masa-masa tahun 1990-an lebih banyak poster bergaya binaraga, motor harley, moto GP, atlet bola, Nike Ardila, Willy Dozen, Rhoma Irama, dll. Dan semua poster-poster itu akan terpampang di kamar-kamar anak muda di zaman itu. Selain dari itu, anak-anak sekolah zaman dulu ke pasar juga melihat-lihat ke toko buku. Biasanya mereka, apalagi perempuan, akan mencari buku diary bewarna pink yang dilengkapi dengan kunci dan gembok kecil. Lalu buku diary itu akan disembunyikan rapat-rapat di dalam lemari atau di bawah kasur. Dan satu lagi yang tak terlupa yaitu mencari kertas dan amplop untuk surat cinta. Biasanya kertas itu be-warna pink dan dipilih ada zodiaknya supaya orang yang menerima surat itu nanti bakalan tahu kalau si fulanah itu berzodiak Scorpio, Cancer, atau Aquarius. Dan memang, mengikuti zodiak oleh remaja za-man dahulu sangat penting. Kalau bertemu majalah maka halaman yang paling dicari itu yaitu horoskop itu. Atau bagi mereka yang keliling-keliling pasar itu nantinya bakalan singgah di kios koran di Hizra untuk melihat bagaimana asmara zodiaknya minggu itu.
Dan satu hal yang tak pernah terlupa yaitu mencari amplop dan kertas surat cinta di toko-toko buku itu. Warna favorit masih tetap pink, ada lambang zodiaknya juga, dan tentu dengan aroma yang wangi. Meski sejomblo-jomblo orang saat itu, menyimpan stok surat beginian sangat perlu. Apalagi bagi anak remaja perempuan. Terkadang anak-anak za-man dulu memang sering berkoresponden dengan anak-anak muda dari berbagai daerah. Namanya sahabat pena. Dan bahagia sekali rasanya surat kita dibalas oleh sahabat pena itu. Karena sudah terlalu sering me-ngirim dan menerima surat dari sahabat pena maka hobi mengumpulkan perangko pun menjadi keunikan tersendiri. Hobi itu bernama filateli. Meski zaman sudah bergeser tetapi perangko-perangko zaman dulu bisa dijadikan sebagai dokumen sejarah.
Berbagai hal tentang memori warga kota, Columba Livia masih mengingat kalau Toko Wedolma dulu di sebelah Toko Jam Yet di bawah Jenjang Blok Barat. Begitu juga dengan Era Modeste Zulhira masih mengingat yang paling favorit dulu Toko Buku Wedolma. Di situ banyak pernak-pernik alat tulis yang bagus-bagus. Adapun Imri Yani juga suka mampir ke Toko Buku Wedolma beli Majalah Gadis, Aneka, dan Anita, atau kalau tidak ada di di Wedolma maka dicari ke Toko Hikmah atau Hizra. Sedangkan Yusrizal Efendi masih mengingat Toko Dempo yang menjual stiker untuk tambalan celana yang robek karena dimakan sadel sepeda atau tersangkut pagar masa awal 90-an. Sekarang toko itu masih ada di deretan Soto Wir, katanya. Begitu pula dengan Fitrial Bachri yang mengatakan bahwa saat sekolah di SMP 1 Payakumbuh tahun 1970-an, ia mengingat di belakang sekolahnya ada terminal dan Gedung Kebudayaan yang menyimpan naskah-naskah drama untuk di-sandiwarakan di nagari-nagari. Cuma estelase kota demikian sudah tidak sesuai dengan fungsinya maka sekarang menjadi tempat penampungan pedagang kaki lima, katanya.
Sedangkan Desi Kurniati melihat bahwa sekarang Petak Sago itu su-dah menjadi kenangan dan kios-kios yang mana bisa setiap tahun terjadi kebijakan jual lapak kios. Angkutan umum telah mati setelah leasing merajalela. Parkir sembraut walau tiap tahun dibongkar, dipindah-pin-dahkan, ujung-ujungnya badan jalan juga yang jadi lahan parkir, kata-nya. Sedangkan Eddi Rusydi Arrasyidi menanggapi dengan lucu bahwa mungkin 'perangko' itu sudah jadi isterinya sekarang. Seperti gomba-lannya di masa lalu; Kau dan Aku bagaikan perangko dan amplop, yang melekat dan menempel selalu tanpa ada yang bisa menanggalkan. Tapi masih banyak memori yang lain tentang kata-kata pujangga yang sedang dilan-da asmara di zaman dulu itu, jelasnya.
Beda lagi dengan Iyung Sikumbang bahwa ia masih ingat dengan ma-sa 20 tahun yang lalu di SMU 1 Payakumbuh mendapatkan surat miste-rius. Tidak tahu siapa pengirimnya. Ketika mau dibuka maka direbut oleh kawan-kawan, sangat malu rasanya, kenangnya. Begitu juga dengan Novra Hadi yang pernah menerima surat cinta yang datang kepadanya 20 tahun yang lalu, namun sampai sekarang ia tidak tahu siapa pengirim misterius itu. Kini anak-anak muda sekarang mana tahu dengan rasa di-kirimin surat dari penggemar misterius, katanya. Sudah memakai gadget semuanya, katanya lagi menambahkan.
Begitu pula dengan Afrina Hanoum Piliang yang mendapatkan surat dengan ampolop pink, lebih berdebar-debar rasanya daripada maneri-ma ampolop gaji, kenangnya. Ada pula pengalaman unik dari Okta Pi-liang bahwa dulu kalau pacaran tidak bertukar diary yang dikunci itu tidak asik. Daku pernah mengalami masa itu, isi diary seminggu, lalu seminggu lagi diisi oleh pacar. Pokoknya kegiatan dalam seminggu itu harus ditulis dalam diary, katanya.
Adapun Susila Wati memiliki pengalaman unik yaitu pernah punya sahabat pena bernama Cici pemain film Rumah Masa Depan. Bahagia dan bangganya beda lho dibandingkan punya banyak teman seperti di media sosial sekarang, katanya. Begitupun dengan Firdayati Binti Safar dengan perkumpulan filatelis yang diikutinya di kantor pos. Anak sekarang ma-na tahu tuh dengan filateli dan betapa bangganya bisa memiliki koleksi perangko dari jaman ke jaman, kenangnya.
Sedangkan pengalaman Vivi Maylisa mengatakan bahwa anak STM sering menunggu pacarnya dengan nongkrong-nongkrong di depan Hizra berkelompok. Kalau sudah lewat pacarnya masing-masing maka beriringan pulalah mereka berjalan. Setelah selesai mengantar pacar pu-lang maka mereka kembali nongkrong di situ. Entah apa saja yang me-reka kerjakan, katanya.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau