Parawe atau Jambu Batu, Sangat Dicari Anak-Anak Zaman Dulu

 

1PParawe zaman dulu. Foto: rubi77botani.wordpress.com

     Parawe atau jambu batu, sejak dulu memang banyak tumbuh secara liar. Terkadang di bantaran sungai, di tepi jalan, di pagar-pagar kebun, di sisi tebing, atau di pagar halaman rumah. Dan anak-anak zaman du-lu suka memanjatnya dan tak pernah benar-benar masak buah pohon parawe itu.

     Begitu juga dengan pepaya atau kaliki musang (pepaya). Sering pula tumbuh liar di kebun-kebun dan di bantaran sungai. Bila buahnya su-dah kuning saja maka akan dipanjat oleh anak-anak dan buah itu diku-pas kulitnya meski agak keras tetapi isi dalamnya sudah lunak. Maka berderuk-deruklah pepaya itu dikunyah anak-anak.

     Selain buah parawe, kaliki musang, ada juga buah seri atau buah kersem yang sering dipanjat anak-anak. Karena buahnya yang manis maka sering pula menjadi incaran burung-burung. Tetapi burung-bu-rung itu sedang diincar pula oleh ular pucuk yang warnanya mirip sekali dengan warna daun pohon seri atau kersem. Maka terperanjatlah anak-anak kalau sudah bertemu ular yang pandai melonjat ini. Maka jurus seluncur turun pun akan menjadi andalan. Kalau perlu, bergayut saja di dahan pohon sehingga dahan itu merunduk ke tanah.

     Hazmi Nahdatul masih mengingat kalau dulu di halaman surau tem-patnya mengaji, anak-anak saling berebut memanjat batang seri sebe-lum masuk surau. Sedangkan kalau parawe ketika pergi mandi ke pan-curan. Sambil menunggu antrian mandi, maka dipanjatlah pohon para-we itu, katanya. Sedangkan Yusrizal Efendi juga mengingat bahwa parawe itu adalah makanannya sambil manyambit rumput untuk sapi sebelum pergi kuliah pada tahun 1992 ke Padang. “Kalau terlihat ba-tangnya, buahnya sudah masak atau agak masak maka diamankan dulu, setelah itu baru menyabit rumput,” katanya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url