Tungku Dapur Zaman Dulu
|
Tungku dapur zaman dulu. Foto: travel.kompas.com |
Uniknya di zaman dulu ada istilahnya mencari kayu. Anak-anak ka-lau sudah pulang sekolah maka tidak jarang ada yang ke kebun-kebun untuk mencari kayu bakar. Dan ketika di tungku, kayu bakar itu di-umpan dulu dengan daun kelapa kering supaya kayu ditungku itu juga terbakar. Ketika api mati, biasanya disiapkan sebuah saluang api untuk peniup api yang mati itu.
Memang begitulah kehidupan di zaman dulu. Setelah gas LPG ber-subsidi masuk maka tungku-tungku itu mulai ditinggalkan. Terkadang tungku-tungku itu digunakan kembali ketika membuat rendang sebe-lum hari raya atau untuk membuat gelamai. Setelah itu kembali diting-galkan. Maka sejak itulah orang-orang mulai lupa apa artinya "tiga tu-ngku sajarangan".
Sebagaimana memori warga kota yang pernah mencari kayu api seperti Arlen Ara Guci mengatakan bahwa tempat mencari kayu itu se-suai dengan arah pergi ke sawah atau pergi gembala itik atau kerbau atau sapi. Kalau ada kebun yang batang kelapanya rimbun maka di sa-nalah mencari kayu. Biasanya kalau di musim angin kencang itu pa-ling seru bahwa daun kelapa atau arai banyak yang jatuh. Nanti diikat dan lalu dijujung untuk dibawa pulang dan dionggok di sudut dapur se-bagai stok kayu bakar, kenangnya.
Begitu juga dengan Yani Pinta bersama teman-temannya yang sering pula mencari kayu sepulang sekolah. Pelepah kelapa yang kering diba-wa pulang dan kalau masih basah maka dibelah-belah dulu lalu disan-darkan di pangkal pohon kelapa. Masing-masing mereka punya batang kelapa sandaran, tapi tak satu pun dari mereka yang memiliki kelapa itu karena tanah hampir 3 hektar itu, sebagian adalah rimba karena belum diolah dan babi hutan masih banyak. Lahan seluas itu hanya kepunyaan satu orang saja di kampung, katanya.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau