PEMBERIAN NAMA ANAK ZAMAN DULU

 

1. Acara turun mandi pada zaman dulu. Foto: 1001indonesia.net

     Sebagaimana falsafah alam takambang jadi guru", sangat benar-benar diterapkan oleh orang Minangkabau sejak dulu. Salah satunya tentang pemberian nama. Dan hal itu, terus berkembang dan berganti sesuai perkembangan zaman. Kalau diperhatikan di dalam kaba atau tambo, orang-orang dulu bernama seperti Magek Jobang, Cindua Mato, Puti Saribanilai, Lenggogeni, Saribanun, Sutan Balun, Cati Bilang Pandai, dll. Lalu setelah bergesernya zaman dan masuknya budaya islam maka orang-orang Minang pun memberikan nama-nama anaknya seperti Sultan Alif, Syarif Peto, Abdurahman, Khatib, Muhammad Attar, Zainab, Halimah, Rohana, Siti, dll. Dan pada awal abad 20 pun, trend pemberian nama anak-anak di Minangkabau juga ikut berubah seperti Arisun, Safarudin, Zainudin, Agus Salim, Sutan Syahrir, Chairil Anwar, Alisyahbana, Idrus, Rusli, Syarifah, Rasuna Said, Latifah, Fatimah, dll.

     Setelah Belanda angkat kaki, kecendrungan pola pemberian nama anak-anak Minangkabau juga ikut berubah seperti Syarial, Rizal, Syafnir, Alizar, Faisal, Dahniar, Darmawati, Yuslan, dll. Namun ketika terjadi perang saudara antara Sumatera Tengah dengan Pemerintah Pu-sat tahun 1958-1961, perubahan nama itu juga ikut berubah. Setiap anak yang lahir diusahakan seperti nama-nama orang Pulau Jawa atau luar negeri seperti Wawan Prayitno, Surianto, Sutomo, Ratna, Dewi, Putri, Sri, Purwanto, Satrio, dll.

     Perubahan nama itu juga terus berubah memasuki tahun 1970-an. Nama-nama anak Minangkabau terasa lebih nasionalis seperti Wandi, Anton, Doni, Anto, Robi, Angga, Nova, Novi, Dela, Deli, Dea, Meli, Esa, dll. Perubahan nama itu terus berlanjut ketika dunia internet telah me-rata dan pola kecendrungan gaya hidup pun juga telah berubah kepada trend hijrah atau agamis. Maka nama-nama pun sejak tahun 2000-an sampai sekarang lebih cenderung kepada pola nama-nama orang Arab atau bahasa Arab seperti Fatih, Khalid, Ali, Umar, Abdullah, Sauqi, Muhammad, Aisyah, Zainab, Fatimah, Zahra, dll.

     Namun ada juga cara unik orang zaman dulu memberi nama untuk anak-anaknya. Misalnya anaknya lahir ketika gempa maka diberilah nama anaknya Gampo Alam. Atau ada juga yang sedang mengirai padi di sawah lalu dikabari oleh orang lain bahwa anaknya lahir maka anak itu diberi nama Kirai. Dan sebenarnya masih banyak hal-hal unik ten-tang pemberian nama itu. Sedangkan Nandik Sufaryono melihat nama-nama teman seangkatannya yang lahir setelah 17 Agustus 1945 maka di belakang namanya itu diberi nama klan (suku). Ada pula yang bernama Broia, Karambie, Buyuang Polo, Malin Enek, Ujang Tambua, (Jambua nama aslinya Zamhur), Ijeh, Cimporong, Edi Kudik, Ancor singkatan Anda Corok, West dari namo Andi Barat, dll. Begitupun dengan Eddie Mns Soemanto memiliki teman-teman seangkatannya yang lahir di ta-hun 1970-an dengan nama Rudolf, Albert, Jek, Joni, Meksi, Ricky, Antonius, Angel, Jansen, Happy, Mike, Karlo, Petris, Edwar, Erik, Johan, yang telah terpengaruh nama Barat karena memang saat itu, film-film koboi dan film aksi Hollywood sedang merajai bioskop-bios-kop di Tanah Air. 

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url