LANGGAM ATAU DIALEK YANG SUDAH MULAI TERGERUS ZAMAN
|
Acara adat di Payakumbuh. Foto: Ijot Goblin |
Umumnya orang Payakumbuh atau Luak Lima Puluh lebih banyak menggunakan kata "O", misalnya nagori, kopa, cako, ompek, godang, tobik, tobek, lopeh, dll. Namun setelah pasar mulai ramai dikunjungi oleh pegadang-pedagang luar dari Payakumbuh atau Luak Lima Puluh maka langgam bahasa balai atau langgam bahasa pasar pun tercipta. Misalnya nagari, kapa, ampek, gadang, tabik, tabek, lapeh, dll.
Pada tahun 2000-an ketika saya sudah bersekolah di sekolah yang berlokasi dekat pasar, maka nyaris setiap orang memakai bahasa lang-gam pasar. Kami seakan-akan malu membawa langgam asal dari dae-rah masing-masing. Meski sudah berusaha memakai langgam pasar, tetapi langgam bahasa daerah asal tidak bisa hilang sepenuhnya. Se-hingga terciptalah langgam yang aneh terdengar.
Sejak saya mempelajari budaya adat istiadat dan memori kolektif di masyarakat, maka sejak itu saya pun bangga memakai langgam bahasa daerah tempat saya dibesarkan. Dan hari ini, langgam bahasa daerah itu semakin susah dikenali dari anak-anak zaman sekarang. Sebab ke-tika baru saja lahir, ia sudah diajari Bahasa Indonesia. Meski langgam Bahasa Indonesia-nya itu seperti langgam indomi (Indonesia-Minang). Dan dikhawatirkan suatu saat nanti, kekayaan langgam bahasa daerah itu akan punah.
Warga kota pun menanggapi tentang dialek atau langgam daerah yang semakin minim digunakan. Misalnya Yenni Ramzi berpendapat bahwa Bahasa Minang merupakan salah satu bahasa yang terancam pu-nah. Mudah-mudahan saja anak-anak bisa diajak kembali berbahasa kampung halamannya walaupun tetap diajarkan bahasa nasional atau bahkan internasional. “Tapi nan baso minang jan sampai ndak pandai anak-anak awak,” katanya.
Sedangkan Huri Yani Azra mengajukan pertanyaan bahwa apa yang menyebabkan adanya persamaan langgam bahasa Payakumbuh dengan langgam bahasa kampungnya di Limo Kaum, Tanah Datar? Apa karena faktor pertemuan di balai atau ada faktor lain? tanyanya. Maka dalam hal ini saya jawab bahwa menurut tambo, setelah Nagari Pariangan dan Nagari Padang Panjang maka Limo Kaum itu adalah nagari tertua di Luhak Tanah Datar dan setelahnya Sungai Tarab. Adapun Limo Kaum sebagai tempat lahirnya kelarasan Bodi Caniago yang didirikan oleh Dt. Parpatiah Nan Sabatang sedangkan Sungai Tarab adalah tempat lahir-nya kelarasan Koto Piliang oleh Dt. Katamanggungan. Ketika dua dae-rah ini semakin padat maka bermigrasilah ke tempat baru dan lalu ber-dirilah Luhak Agam dan Luhak Lima Puluh.
Begitu pula dengan Oktaf Yendra memberikan informasi bahwa ka-lau di perantauan seperti Jakarta, Bandung, Pontianak, Makassar, Jogja, dsb., orang Minang bertemu sesama Minang pasti langgam yang do-minan dipakai itu langgam Padang Panjang, meskipun langgam dari daerah asal sesekali masih ada terbawakan, katanya. Keprihatinan ten-tang langgam daerah ini juga disampaikan oleh Siska Andes Madya bahwa Payakumbuh ini banyak dialek atau langgamnya. Salah satu contohnya yang dipakai oleh Angel Cry. Sebenarnya itu perlu dilestari-kan, katanya. Adapun Aqila Bendang mengatakan bahwa ia selalu tetap memakai langgam tempat tinggalnya walaupun ia sedang tidak di dae-rahnya. Sampai ada kawan-kawan yang mencemooh, katanya lagi.
Hal yang sama juga dikhawatirkan oleh Hario Zones bahwa ia di tahun 2011 pernah melakukan riset dengan pertanyaan "Kenapa para orang tua bangga berkomunikasi sekarang dengan anak-anaknya me-makai bahasa Indonesia?" Kebanyakan menjawab karena latah atau ikutan soalnya banyak perantau yang pulang kampung berkomunikasi dengan anaknya memakai Bahasa Indonesia. Bahkan sejak tahun 2011 iapun sering mengungkapkan keresahan ini di media sosial walaupun sebagian ada yang kontra. Katanya, anaknya lahir dan besar di Ban-dung tapi sejak bayi, ia dan istrinya selalu menggunakan Bahasa Mi-nang ke anak karena ia yakin kelak besar, anak juga bisa berbahasa In-donesia yang diajarkan di sekolah atau karena pergaulan. Uniknya ke-tika tahun 2016 pulang kampung, anaknya kaget, dia berbicara bahasa Minang, sementara teman-temannya di kampung yang lahir dan besar di kampung malah menggunakan Bahasa Indonesia.
Sementara Adisti Vicesta juga mengatakan bahwa meski ia dan anak-anaknya tidak tinggal di Payakumbuh tetapi anak-anaknya diajarkan juga dialek bahasa Tiakar, kampung asalnya. Sebab ada banyak bahasa yang jauh berbeda dan kalau tidak diajarkan sejak dini maka anak-anak tidak akan tahu bahasa kampung asalnya. Sedangkan Vivi Maylisa juga berpendapat sama dengan Adisti Vicesta bahwa anak-anaknya selalu diajarkan Bahasa Minang sejak kecil walau banyak hujatan dari ling-kungan, teman kantor, dll. Meski telah merantau ke Pekanbaru tetapi ia bisa menyesuaikan bahasanya. Bisa cengkok Melayu dan ketika di ru-mah tetap berbahasa Minang dengan dialek Koto Nan Ompek, katanya.
Doni Dwinanda yang merantau ke Jakarta berpendapat bahwa di zaman sekarang sepertinya sudah lahir langgam baru yaitu Bahasa In-donesia dengan langgam lokal. Dan suku kata bahasa lokal yang di-paksakan menjadi suku kata Bahasa Indonesia. Seharusnya langgam lokal dengan segala keunikan dan ciri khasnya harus dipertahankan turun-temurun. Karena hanya dengan cara itu kita bisa mempertahan-kan salah satu "identitas kebangsaan", katanya.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau