PETAK SAGO ZAMAN DULU DI PAYAKUMBUH

 

1. 

Petak Sago yang hari ini sudah sepi. Foto: Feni Efendi

     Terminal Sago Pasar Payakumbuh atau dikenal juga dengan Petak Sago, dulu pada dua atau tiga dekade lalu, sago (angkot) jurusan Tiakar Payobasung, Taram, Limbukan, Balai Jaring Air Tabit, Lampasi, Talawi, Andaleh, Tanjung Pati, Situjuh, sangat ramai di sini. Dan di atasnya, di lantai dua, ada taman bacaan dan tempat biliar.

     Di dekat pos polisi ada Kios Panti Usuhan Aisiyah. Tempat anak-anak sekolah nongkrong sambil memesan kartu-kartu yang akan diba-cakan pada acara radio. Sedangkan di depan pos telah menjadi sebuah taman kota dengan beberapa pohon-pohon yang rindang. Masa-masa itu ketika belum ada ponsel, tempat janji bertemu biasanya di depan kantor pos, depan kios panti, terminal sago, atau di Hizra.

     Di Hizra ini dulunya menjadi tempat nongkrong bagi pelajar laki-laki. Cuma tegak-tegak saja depan kios koran itu sambil merokok yang uangnya hasil dari minta sama emak di rumah sebelum pergi sekolah. Sedangkan di lantai dua ada tempat game dingdong. Dan setiap kali ma-in harus memasukkan uang koin terlebih dahulu.

     Ada dua rumah makan yang terkenal sejak dulu. Pertama RM Asia Baru yang berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Dan yang kedua RM Gumarang yang berada di dekat kios panti dan pos polisi. Namun sete-lah RM Gumarang itu terbakar maka sekarang toko itu telah menjadi toko kain. Selain itu ada juga Es Tebak Pak Bahar dan Soto Wir dan Soto Yas. Dan anak-anak muda golongan ekonomi ke atas lebih banyak du-duk di Cafe Amy Es Cream dan di Tudung Saji di samping kantor pos. Serta ada juga di Bakso Borobudur dan Bakso Trisno. Tahu Sumedang di dekat Simpang Kencana juga tempat favorit.

     Di zaman itu, anak-anak perempuan dan laki-laki siswa teladan suka pergi ke pasar sepulang sekolah untuk mengikuti les. Ada les bahasa Inggris, komputer, dan matematika. Dan tempat les terkenal saat itu adalah Training College, Universal, Atlanta, Adzia, dll. Di petak sago ramai juga anak-anak sekolah laki-laki. Dulu istilahnya "jual tampang". Tak jauh dari Petak Sago atau Pasar Penampuang itu ada Pasar Ayam, di sana orang-orang akan berjalan untuk naik bendi jurusan Koto Nan Gadang. Dan memang begitulah zaman dulu. Meski sedikit nakal tetapi patuh kepada orang tua, guru, atau siapa saja yang lebih besar. Karena mereka dulu belajar PMP.

     Beberapa memori warga kota seperti Sas Usually masih mengingat bahwa gerbang masuk Kantor Bupati yang lama di pusat pasar Paya-kumbuh. Biasanya, tiap hari Ahad doeloe-nya, banyak anak muda nan "basijontiak" di bawah gerbang itu, katanya.

     Begitupun dengan Chece Rida masih mengingat bahwa terminal sago ini penuh sejuta kenangan. Di dalamnya ada Tebak Cumang dan Lontang Pical Ida (disingkat Ida Cumang) yang tak jauh dari rumah ga-dang kami, kenangnya. Sewaktu sekolah di SMP 1 apabila sudah ter-dengar bel pertama maka langsung berlari mengambil langkah seribu supaya tidak terlambat sebelum pagar ditutup. Saat itu angkutan Sago ongkosnya masih Rp.1000 untuk mengantar ke SMA 3 (sekarang SMU 2 Kampus Flamboyan). Saat itu berebut naik ketika sago datang tetapi ke-tika tahu yang datang Sago yang sudah tua maka semua mundur me-nunggu sago berikutnya. Indahnya di masa itu, kenang Chece Rida menjelaskan.

     Begitupun dengan pengalaman Rifki S. bahwa ia sering duduk di de-kat pintu sago dan mengumpulkan ongkos penumpang sehingga ia ti-dak perlu lagi membayar ongkos. Sedangkan Herman Leeroth masih me-ngingat bahwa sago yang mantap di zaman dulu untuk jurusan Tiakar Payobasung adalah Alfa Romeo milik oang Payobasung. Musik dan aksesorisnya full, katanya menambahkan.

     Jasril pun masih mengingat bahwa sebelum menjadi Terminal Sago, tempat ini dulunya sebagai tempat Pasar Panampuangan. Saat itu kios-kios masih berpintu kayu. Dan sekitar tahun 1987 barulah berdiri Petak Sago. Dan di samping terminal itu dulu rumah makan Gumarang sebe-lum terbakar, kenangnya. Dan Nusyirwan Kamil juga menambahkan bahwa sebelum adanya angkutan Sago, tempat ini adalah terminal bus semua jurusan, mulai dari ANGDES, AKDP, AKAP, sebelum dibangun terminal di Bulakan Balai Kandi.

     Sedangkan Wiwi Zumitra masih mengingat bahwa ada telpon umum di depan SMP 1. Kalau lewat di sana sering melihat anak sekolah tekan-tekan mana tahu ada koin yang menyangkut dan akan keluar kalau ditekan. Akan menjadi rezeki nomplok, kenangnya. Begitu juga dengan Patry Yanty yang masih ingat ketika masa-masa dulu ada telepon umum di depan RM Asia Baru. Pulang sekolah sudah antri menelpon di sana, katanya. Adapun Riza Ratna Sari mengingat bahwa setiap hari pulang sekolah pasti pasar penuh oleh anak-anak sekolah. Kalau hari Kamis dan Jum'at bisa dibedakan dari warna baju kurungnya. Kebanyakan jalan berkelompok. Kalau SMA 1 warna baju kurungnya pink dan kalau SMA 2 warna biru tosca. Sedangkan SMEA Negeri bewarna kuning, terangnya.

     Rico Pratama masih mengatakan ketika membeli nasi sebungkus di-makan ramai-ramai di jenjang Petak Sago dan setelah masuk ke wartel panti pura-pura menelpon pula. Sedangkan Suci Fatihah masih ingat bahwa RM Gumarang terbakar diganti nama dengan RM Bahagia di se-belah Perabot Yakin dan di depannya angkot jurusan ke mudik. Begitu-pula dengan Mila Susanti yang masih ingat di dekat Pasar Buah ada orang penjual mie ayam yang berlangganan sewaktu sekolah di STM dulu, katanya.

     Sedangkan Vivi Maylisa mengatakan ketika anak SMA 1 saling bere-but ketika naik angkot Sago di pagi hari di Petak Sago. Begitu pula ketika siang juga berebut angkot Sago di GOR M. Yamin setelah lelah berjalan dari gerbang SMA 1. Adapun dengan Faiqah ketika pulang sekolah ma-kan nasi goreng dulu di Tudung Saji yang harganya Rp.2.500 seporsi. Pulang naik bendi dan ongkosnya Rp.200. Latihan band, les komputer, koleksi pin tweety (sampai puluhan), isi bensin cuma Rp.900 seliter, dan sampai booming kaos kaki selutut (maklum zaman itu siswa perempuan di sekolah negeri belum diwajibkan berhijab). Sedangkan ketika tamat sekolah ada acara coret-coret di hari kelulusan memakai pilox dan spidol warna-warni. Lalu berkonvoi dengan motor ke Harau. Teman-teman yang alim tidak ikut, mereka langsung pulang dengan baju sekolah yang bersih dari coretan, kenangnya.

 

 Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url