RUMAH MAKAN LEGENDARIS TEMPO DULU DI PAYAKUMBUH

 

1.   RM Asia Baru telah berdiri sejak tahun 1936. Foto: Feni Efendi

      Rumah Makan Asia Barusudah ada sejak zaman kolonial Belanda yaitu sejak tahun 1936. Dan tentu, rumah makan ini telah menjadi ikon dari memori warga kota. Sebelumnya juga ada sebuah rumah makan yang didirikan pada tahun 1934 oleh Idris Sutan Mantari yang lebih dikenal dengan nama Angku Idris, kakek dari Riri Satria.

     Berbagai zaman telah berganti. Mulai dari masa revolusi, orde baru, dan reformasi seperti saat ini, RM Asia Baru tetap bertahan dari terpaan zaman. Dulu juga ada RM Gumarang di seberang kantor pos namun sekarang tidak ada lagi. Ada pula RM Nanak yang telah buka sejak tahun 1980-an di dekat Bioskop Karya yang buka jam 6 pagi sampai jam 12 siang, kata Buddi Abe. Awal tahun 2000-an saya masih melihat RM Minang Asli di lokasi deretan Toko Texstil Indonesia sekarang ini. Dan ada juga RM Pergaulan depan Simpang Candano serta RM Sederhana yang sangat fenomenal itu telah membuka cabangnya di kota ini.

     Selain RM Asia Baru adalagi Rumah Makan yang terkenal di tahun 19601970-an yaitu RM Aka Barayun. Orang Payakumbuh sendiri ku-rang akrab dengan nama RM Aka Barayun itu tapi lebih akrab dengan nama pemiliknya yaitu RM Si Wat yaitu seorang Tionghoa. Letaknya sekitar jalan di samping Bofet Sianok arah ke Toko Sepeda Bunda. Tu-kang masaknya adalah seorang Minang yaitu mamak dari Pak Limin. Sedangkan Pak Limin sekarang membuka sebuah rumah makan di Sim-pang Bukik Sitabur sebelah kiri yang bernama RM Pak Limin, kata Erry S. Djarens dan Rena Jarens.

     Menu favorit di RM Asia Baru ini adalah cancang pagi, kata Iyung Sikumbang. Paling enak makan setelah subuh dan jika sudah lewat jam 9 pagi maka cancangnya sudah habis, kata Satria Bestari menambahkan. Dendeng dan taucho-nya juga enak. Selain itu, di pagi Minggu ada pasar seken di jalan  sebelah kiri RM Asia Baru. Tentu hal itu juga telah menjadi bagian memori kolektif bagi warga kota juga. Sekarang pasar seken itu sudah dipindahkan ke Pasar Ibuh Timur di Minggu pagi juga.

     Anak-anak zaman dulu masih mengingat RM Asia Baru itu bangu-nannya dari papan. Lantai atas difungsikan sebagai tempat penginapan. Paling enak menikmati nasi bungkus atau nasi ramas itu dengan lauk cancang. Bumbu-bumbu yang masih melekat di daun bisa ditambahkan dengan nasi yang dimasak di rumah. Dan itu masih tetap terasa nikmat-nya, kata Doni Dwinanda mengenang masa lalunya di Payakumbuh ini.

     Penerus sekarang adalah generasi ketiga yaitu anak Pak Azmi yang juga sebagai pengurus yayasan kampus STTP di Sawah Padang. RM Asia Baru ini sudah berdiri sejak tahun 1936. Jauh sebelum kemerdekaan RI. Dan pada bulan Juli 2021 akan merayakan ultah ke-85 dengan tetap menjaga kualitas rasa masakan, mudah-mudahan RM A-sia Baru tetap jadi favorit masyarakat Luak Lima Puluh, kata Yetmi M. Chaniago sebagai istri dari Pak Azmi.

     Salah satu anak dari pemilik RM Asia Baru ini pada awal 1980-an pernah menikah dengan salah seorang penari kesayangan Soekarno. Dan, kami pernah terhubung dahulunya, kata Yeyen Kiram menam-bahkan. Begitulah rumah makan telah menjadi memori warga kota. Di malam hari ada Ampera Rais di bawah kanopi. RM Guru juga ada di belakang RM Asia Baru itu. Berbagai makanan cepat saji boleh men-jamur di kota ini, toko bakeri, kafe-kafe, tapi rumah makan-rumah ma-kan itu tidak pernah tergantikan di dalam memori warga kota.

     Adapun Linia Altasya mengingat waktu kecilnya kalau demam ma-ka obatnya adalah makan nasi RM Asia Baru maka langsung sehat, ka-tanya. “Nasi itu dibeli sebungkus untuk makan berdaun bersama ibu, ayah, kakak, dan adik, sangat indah masa itu,” kenangnya. Sedangkan Elsi Kemalaputri mengatakan menu favorit keluarganya setiap hari Jum-at adalah Cancang Ayam.

     Begitupun Buddi Abe mengingat bahwa Rumah Makan Nanak dekat Bioskop Karya yang buka jam 6 pagi sampai jam 12 siang sudah ada sejak tahun 1980-an. Saya rasa masyarakat Payakumbuah tidak ada yang tidak tahu dengan Nasi Nanak, katanya. Sedangkan Marta Lena melihat bah-wa sekarang sudah kurang laku rumah makan lama itu. Mungkin kalah karena nama atau penyajian tetapi kalau rasa tidak tertandingi atau seiring berjalannya waktu selera anak muda sekarang tidak sama dengan orang saisuak? Anak-anak sekarang sudah tidak suka lagi dengan samba lado tanak dan pongek cubadak. Banyak ciri khas samba urang awak yang ti-dak dikenal oleh anak-anak sekarang termasuk kue-kuenya. Anak-anak sekarang lebih suka makan kue keju dan sebagainya namun mereka ti-dak tahu rasa wajik, kalamai, bareh randang, pindik, dan sebagainya. Se-dangkan Mak Win berpendapat makan yang paling enak di Payakum-buh zaman dulu di Rumah Makan Delima atau di samping penginapan Harau, “Gajeboh ciek, Wat” katanya mencontohkan.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url