TAMAN BACAAN ZAMAN DULU DI PASAR PAYAKUMBUH HANYA TINGGAL CERITA

 

1

Bekas lokasi Taman Bacaan zaman dulu. Foto: Feni Efendi

     Di lantai dua gedung di atas Petak Sago itu, dulu ada beberapa buah taman bacaan, serta kantor pengacara, dan tempat biliar. Dari atas itu bi-sa memantau sago mana saja yang sudah penuh. Karena anak-anak se-kolah pada masa itu suka pilih-pilih sago mana yang bagus dan full mu-siknya. Kalau sudah tiba giliran sago yang bagus maka berebutlah anak-anak sekolah itu naik tetapi kalau sago tua maka ramai-ramai pula mun-dur sehingga lama pulalah penuhnya.

     Taman-taman bacaan pun juga telah menjadi memori bagi warga kota. Taman bacaan mula-mula di depan kantor walikota lama (show-room Su-zuki di belakang RM Asia Baru). Anak-anak zaman itu menyukai cergam karangan Henky, Jan Mitaraga, Jair, Man, dll. di tahun 1970-an. Ada 4 taman bacaan mula-mula yaitu Taman Bacaan Wem kepunyaan Incek Kang di Kampung Cina (deretan ruko-ruko di belakang RM Asia Baru sekarang), Taman Bacaan Surya di Jalan Tembakau, Taman Bacaan Warga di Simpang Sianok, Taman Bacaan Komik Ayah di dekat Toko MTR, kata Doni Dwinanda. Adapun berbagai bacaan di Taman Bacaan Petak Sago ini yaitu komik, novel, majalah, tabloid. Baik itu komik Ko-pingho, Dragon Ball, Legenda Naga, The Return Condor of Heros, ataupun Shincan yang masih anak-anak tetapi berpikir dewasa. Adapun bagi perempuan mereka lebih suka novel-novel karya Mira W, Fredi S, ataupun Barbara Carland yang dipinjam untuk dibawa pulang.

     Majalah-majalah juga ada. Baik itu Majalah Sabili yang berhaluan po-litik, Majalah Hidayah yang bisa membuat tobat sesaat, ataupun komik-komik Jepang dan Mandarin yang melatih berpikir dan imajinasi. Maja-lah Misteri juga ada penggemar tetapnya. Mulai dari bahasan Nyi Roro Kidul, Jembatan Simanis Ancol, Mbah Kunci Merapi, yang juga disertai iklan-iklan klenik seperti penglaris, jimat penambah kewibawaan, disa-yangi bawahan dan dihormati atasan, pemikat sukma, yang bisa meng-goda kantong para politikus ataupun pengusaha yang ingin memiliki simpanan istri di berbagai tempat.

     Sekarang lantai dua itu lebih mirip kenangan yang tak terurus. Dan Petak Sago itu pun lebih persis suara deru Sago yang terbangun dari la-munan. Atau seperti parkir di jalan utama kota yang sembraut. Tetapi begitulah zaman. Ia terus bergeser. Dan nasib mereka yang pernah mang-kal di taman-taman bacaan ini pada masa lalu tidak pula bisa ditebak bagaimana mereka sekarang. Mungkin ada yang menjadi walikota, ang-gota dewan, pedagang, petani, tukang, marketer, supir, dll. Namun di luar semua itu, buku-buku di taman bacaan ini telah mengajarkan me-reka bagaimana berpikir logis, terstruktur, dan terkonsep sehingga tidak mudah menjadi korban hoax para buzzer dan influencer bayaran itu.

     Taman bacaan itu juga terkenang oleh Putra Illahkhair dan berharap semoga pihak pemko Payakumbuh membuka lagi taman bacaan ini agar generasi kita yang akan datang gemar membaca. Saya waktu SD dan SMP dulu sering kemari, walau kita membayar untuk satu buku bacaan, komik maupun novel, tapi hati ini senang sekali, terlebih kalau baca komik Petruk Gareng dari Desa Tumaritis, seru banget, katanya. Sedang-kan Rima Dessi yang tinggal di Simpang Sianok mengatakan bahwa ia suka membaca di Taman Bacaan Warga buku komik Kho Ping Ho, si Buta dari Gua Hantu, Pendekar Mabuk, katanya. Dan Engga Guanda juga masih mengingat Taman Bacaan Kucica di Petak Sago.

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url