SEMASA KECIL BERMAIN DI HALAMAN BERSAMA TEMAN-TEMAN
|
Anak-anak bermain di halaman. Foto: Daihatsu.co.id |
Permainan anak-anak zaman dahulu seperti bermain kelereng, gam-bar, kuaci, congklak tanah, bermain tali karet, dan lain-lain. Ada juga bermain sepak tekong, petak umpet atau bermain taliyot bagi anak-anak dulu. Selesai bermain, terkadang anak-anak melanjutkan dengan mandi di sungai atau bermain bola di sore hari.
Dalam permainan itu ada juga anak-anak yang bertengkar. Namun orang tua masing-masing membiarkan saja karena tidak lama setelah itu mereka akan berbaikan kembali. Ketika sedang enak-enaknya ber-main kelereng maka dipanggil emaknya untuk belanja ke warung, tentu terkadang permainan itu bisa bubar atau digantikan dengan yang lain.
Dari berbagai memori warga kota, Des DjaLinus, masih mengingat bahwa anak perempuan masa itu suka bermain masak-masakan seperti menjual pical giling. Sayurnya daun-daun yang ada di kebun, kuahnya dari batu bata yang digiling, kerupuk merahnya dari daun nangka yang telah kering, katanya.
Ada pula cerita haru dari Irna Ina bahwa ia teringat kepada kisah pa-mannya (adik ibunya). Dulu sewaktu masih kecil, pamannya pandai bermain kelereng hingga kelerengnya sangat banyak karena sering me-nang. Suatu hari ia pulang ke rumah setelah selesai bermain kelereng. Dilihatnya ibu dan kakaknya sedang duduk di jenjang rumah berdua dengan kakaknya. Ditanyanya kenapa bermenung maka saat itu mere-ka tidak ada lagi beras dan uang untuk pembelinya sudah tidak ada maka pamannya naik ke atas rumah dan membawa bungkusan yang berisi kelereng yang banyak. Kelereng itu ia jual kepada temannya yang kaya. Dan lalu membeli beras dari uang menjual kelereng itu. “Mereka anak yatim, ayah mereka meninggal sewaktu mereka masih sangat kecil. Alhamdulillah, paman itu sekarang menjadi seorang guru besar di Unand yang bernama Prof. Dr. Idrus Abbas. Sudah pensiun tapi masih aktif mengajar di kelas pasca sarjana bersama isterinya, Prof. Dr. Siti Salmah. Mereka disekolahkan oleh ibunya dengan berjualan ketu-pat sayur di SMEA Negeri yang berlokasi di SMK Kosgoro sekarang ini,” kata Irna Ina menjelaskan. Sedangkan ibunya seorang guru yang mengajar di SDN 8 Parambahan.
Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau