Anak-anak Zaman Dulu Mandi di Sungai

Anak-anak zaman dulu mandi di sungai. Foto: kompasiana.com

     Salah satu ciri-ciri anak zaman dulu adalah mandi di sungai atau di bandar kali atau juga di kolam. Terkadang apabila musim hujan dan air sungai naik ke sawah, maka anak-anak pun membuat rakit dari batang pisang atau bambu untuk mengarungi danau dadakan itu. Lalu berhan-yut-hanyutlah anak-anak dengan rakit-rakit itu terus ke bawah.

     Ketika musim kemarau, air sungai sedikit dangkal, maka anak-anak pun mencari lubang-lubang kepiting di bantaran sungai. Dan tangan yang dijepit oleh kepiting pada masa itu sesuatu yang biasa. Meski pe-rihnya tak tertahankan bila dijepit kepiting itu. Terkadang ada juga a-nak-anak mencari udang di balik batu-batu atau siput sungai (lokan) yang bentuknya panjang-panjang.

     Ada juga anak-anak dulu mencari pensi-pensi di ujung bandar yang tak jauh dari sungai. Di mana bandarnya berpasir maka biasanya ada pensi-pensi di situ. Biasanya pensi-pensi itu dijual orang ketika malam tarawih di bulan Ramadhan atau sore hari ketika waktu mengaji di masjid atau di surau. Satu hal yang selalu dimainkan anak-anak zaman dulu ketika mandi di sungai adalah bermain pasir. Tentu pasir itu di-buat berbentuk kastil-kastil atau gunung-gunung seperti yang diimaji-nasikan anak-anak zaman dulu. Seperti pengalaman Susanti Karmila, ia masih mengingat pandai berenang karena dulu suka mandi-mandi sepulang sekolah dan mencuci pakaian di Banda Masjid Nunang. Ada banyak memori indah masa kecil dulu di situ, katanya.

     Columba Livia dulu juga pernah mencari pensi di bandar kecil dekat sawah-sawah dan kolam di Parit Rantang yang masih belum sekotor sekarang, katanya. Lain pula dengan Melvi Yendra ketika dulu sewaku SMP, pulang sekolah, bermandi-mandi di Batang Agam dengan bebe-rapa kawan-kawannya. Waktu itu, Batang Agam airnya masih dalam, bahkan kalau sedang musim hujan. Dulu sempat muncul anggapan, sehabis sunat, kalau mau cepat keringnya, mandilah di Batang Agam. “Untung saja saya tidak pernah mencobanya,” kata Melvi sambil ter-tawa mengingat nostalgia mandi di Batang Agam.

     Ada pula pengalaman mengesankan dari Syaf Ruddin yang sangat suka mandi di Batang Agam. Sampai-samai kawannya memberi gelar dengan sebutan Hantu Agam. Dan di Batang Agam itu ia mencari siput dan dijual ke pasar. Ia juga mencari lokan dan pensi di bandar serta mencari emas dan uang lama di Batang Agam itu. Bahkan ia juga per-nah mendapatkan peluru bekas perang di bawah jembatan. Sedangkan untuk uang lama masih ada ia simpan hingga sampai uang golden perak zaman Hindia Belanda.

     “Di Bivak itu dulu asrama Belanda”, kata Syaf Ruddin. “Banyak topi baja dulu berserakan di tepi Batang Agam Bivak. Dulu sewakatu anak-anak mandi di Batang Agam sering dipakai untuk main perang-perangan. Saat itu  tahun 1972. Kalau diselami di bawah jembatan, banyak peluru bekas Belanda, mortir bekas, dan pistol yang tinggal rangka,” katanya.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url