Tradisi Melukah Belut

 

Pergi melukah di zaman dulu. Foto: antarafoto.com

     Ada sebuah kebiasaan anak-anak zaman dulu yaitu melukah belut. Dan lukah ini ditanam di dalam lumpur sawah yang sudah dibajak. Se-belum lukah itu dibenamkan ke dalam lumpur maka persiapan awal-nya yaitu mencari cacing.

     Cacing-cacing itu biasanya dicari di tanah lembab. Misalnya di dekat limbah sumur, di dekat kandang sapi, atau di pinggiran sawah atau ko-lam. Cara mencarinya cukup dicangkul saja. Setelah cacing itu terkum-pul cukup banyak maka disiram dengan abu dapur yang cukup panas. Lalu cacing-cacing itu dibungkus dengan daun singkong dan dimasuk-kan ke dalam lukah.

     Biasanya lukah itu dibenamkan di dalam lumpur sawah ketika sore hari. Dan diberi tanda. Bisa berupa bendera kecil agar besok pagi tidak susah mencarinya. Tapi terkadang, lukah-lukah itu keduluan dibongkar orang kalau terlambat membangkit lukah itu. Lalu akhirnya si tukang lukah masuk lukah.

     Sebagaimana orang-orang zaman dulu belajar kepada alam takam-bang jadi guru maka belut dan lukah ini telah menjadi contoh pelajaran filosofi hidup. Belut itu diibaratkan kepada orang yang licin. Meski sudah ditangkap dengan tangan, namun bisa saja dapat lolos. Tetapi ada satu hal yang dapat menjebak belut yaitu cacing. Ketika cacing su-dah dimasukkan ke dalam lukah maka tak ada alasan lain tidak terpe-rangkap. Begitulah belut dan lukah. Anak-anak zaman dulu sangat familiar dengan lukah ini.

 

Feni Efendi, penulis buku Pajacombo: Literatur tentang Tanah Payau 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url